Selapis Asus EeeBook E202 di Sudut Varda President Suite Svarga Resort, Lombok

#E202BlogCompetition


Senja mulai membayang. Lazuardi  tersapu warna ungu yang berpadu dengan jingga yang mulai meredup. matahari sudah bersiap beranjak  memasuki peraduan. Sinarnya semakin menjauh nun di ufuk cakrawala.
Angin sepoi mulai terasa dingin. Hembusannya menciptakan riak-riak kecil di atas kolam renang persegi panjang berair jernih. Nun jauh di ujung sana, hamparan hutan pohon kelapa menghampar luas nan indah. Pucuk-pucuk dedaunannya mengangguk ditiup semilir angin pantai yang masih nakal, meski siang telah berlalu.
Di balik hutan kelapa  itu, terbayang biru air laut yang mulai berubah warna menjadi gelap. Sebentar lagi langit akan pekat.

varda-president-suite-svarga-resort

Kutatap layar Asus EeeBook E202 ku yang menyala terang sejak tadi. Beberapa tab kubuka bersamaan. Satu tab di halaman website www.halaltourid.com, aku menginput beberapa paket wisata baru di sana. setelah seharian mengeksplorasi pulau Lombok, ada banyak paket menarik yang ingin kutuangkan di sana.

Satu tab lain kubuka adalah halaman Facebookku untuk mencari beberapa inspirasi dan mengunggah  foto-foto liburanku di pulau indah Seribu Masjid ini.

“Assalamualaikum Bella, how are you?” sebuah pesan masuk lewat Facebook Messengerku.

Alaikum Salam, I am Fine Hafez, and how are you?” aku membalas sapa cowok berdarah Mesir  yang tinggal di Birmingham, UK tersebut.
I am good, as always” balasnya.

Bella, so when i can come to Indonesia and meet your family?” ketik Hafez.
Keningku berkerut. Tak tahu harus menjawab apa. Hafez lelaki yang baik, aku mengenalnya hampir dua tahun. memang hanya lewat media sosial dan kami belum pernah bertemu langsung. Beberapa kali Hafez ingin Video Call denganku tapi masih aku tolak. Aku bukan jenis perempuan yang mudah menyerahkan hati pada setiap lelaki. Meski aku juga tak mempersulit diri untuk berteman dengan pria, terutama yang punya kans untuk menjadi pendamping hidup berkualitas tinggi.

Aku masih belum bisa memutuskan, Hafez ataukah Ronald, cowok berdarah  Canada yang sudah mengucap syahadat sejak setahun lalu itu, yang harus kupilih. Keduanya menarik, sama-sama cerdas, tampan, mapan dan yang terpenting shalih.
Hafez jelas lebih unggul dalam ilmu agama, secara ia sejak kecil sudah belajar agama, karena kedua orang tuanya Muslim, meski ia terlahir di Birmingham. Tapi Ronald juga sangat bersungguh-sungguh belajar agama, sejak ia tertarik pada Islam dan memutuskan menjadi Muallaf. Menolak Hafez seolah menolak intan yang sudah terang bersinar, sedang menolak Ronald seolah membunuh tunas yang sedang mekar dan ingin bertumbuh menjadi bunga indah.

Ah.. aku tergugu. Sepoi angin malam mulai berhembus, aku harus segera menyudahi acara duduk-duduk sore di tepi private pool ini dan bergegas memasuki kamarku di Varda President Suite, Svarga Resort, Lombok.
“We will talk again next time Hafez, now is Maghrib time here. I have to pray”

“Ok, Dear, take your time , have a nice prayer” jawabnya.

“Thanks , Salam alaikum” tutupku

“Alaikum salaam” jawabnya.

Aku bergegas memasuki kamarku dan meletakkan Notebook mungil berwarna Thunder Blue berdimensi 193 x 297 mm itu di atas meja kamarku sebelum aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Kutunaikan shalat dengan sekhusyu mungkin, aku ingin Tuhan mendengar doa-doaku. Aku ingin Tuhan memberiku petunjuk, agar aku mampu memilih yang terbaik dari dua lelaki baik yang ia kirimkan untukku itu. Aku ingin tuhan mengijabah doa-doaku, agar saat aku harus memutuskan memilih salah satu dari dua orang yang baik tersebut, tak ada yang akan tersakiti. Entah bagaimana caranya, pasti IA  lebih tahu.

“Kling..kling..kling..” suara lembut disertai getaran kuat menggerum di atas meja. Zenphone-ku menyala, di layar kubaca nama Shabrina, sahabat baikku yang sedang berlibur bersama aku. Kami memang tidak sekamar. Shabrina sekamar dengan adiknya, jadi aku sendirian saja.

“Bella, ayuk makan malam bareng sama aku” tawar Shabrina.

“Di mana? kita ke Shalza Resto?” tanyaku, membayangkan menu-menu sehat dan halal yang tersaji dari tangan para chef profesional di resto Resort ini.

“Jangan, kita berburu Sate Bulayak saja, ada yang enak di pantai dekat sini”

“Apaaa?? Sate Biawak?? IIhhh… ” jeritku tertahan.

“Bukaannnn…, Sate Bulayak, BU-LA-YAK ! , bukan biawak. Bulayak itu Itu sejenis lontong gurih yang dibungkus daun aren, buat temen makan sate daging sapi. Enak deh, pakai bumbu kacang gitu…” terang Shabrina.

“Ooo…kirain…” aku menahan tawa. “Baiklah, aku siap-siap dulu, ya” aku bergegas melepas mukena dan mencari outfit santai buat jalan-jalan malam ke pantai.
Ah, mataku memandang  Asus EeeBok E202 ku yang masih menyala di atas meja. Rupanya aku lupa mematikannya sebelum berwudhu tadi, untunglah Notebook ini punya daya tahan baterei 8 jam. Jadi, ku ngga perlu khawatir. Aku baru menyalakannya sekitar sejam yang lalu.

Setelah siap dengan dandanan cantikku, aku baru ingat bahwa, aku masih belum menyelesaikan postinganku yang harus segera tayang besok pagi, ada beberapa dokumen yang harus kukirim, dan editing beberapa disain banner dan promo flyer yang harus segera kubuat.

Meski nanti bisa kuselesaikan seusai makan malam, namun aku yakin, hal itu akan membuatku harus lembur semalaman. Jadi kuputuskan untuk membawa serta notebookku saja.

Aih, untunglah si cantik stylish ini tipis dan ringan, hanya berbobot 1,21 kg. Dengan luas  yang tak lebih dari kertas A4, ia mudah masuk ke dalam sling bag bermotif Tribal Tenun khas Lombok yang aku beli tadi pagi di sebuah desa Wisata Suku Sasak.

Akupun siap untuk menikmati wisata malam di tepi pantai Lombok, untuk berburu Sate Bulayak dan minum air kelapa segar, dan pastinya, aku tetap bisa produktif dan menyelesaikan pekerjaanku dengan bantuan gadget handal yang ringan, tipis, compact dan stylish, namun berkekuatan Intel® processor generasi terkiniku.


Malam temaram di pantai Senggigi, Lombok Barat. Kami  berjalan pelan-pelan menikmati angin sepoi-sepoi. Banyak sekali wisatawan dalam dan luar negeri yang juga menikmati suasana malam sambil mencari makan malam di sepanjang pantai ini.

Akhirnya, Aku, Shabrina dan Drea adik Shabrina  sampai di sebuah warung sederhana yang cukup bersih dan ramai  dikerubuti pelanggan yang antri untuk mencicicpi sate Bulayak, yang nampaknya cukup terkenal di daerah Lombok ini.

Hmm..bau daging sapi yang dibakar, menimbulkan rasa lapar yang melilit-lilit perutku. Asap yang berasal dari arang cukup memerihkan mata. Kami bergegas menempati satu-satunya meja yang tersisa di sudut. Beruntung kami masih mendapat tempat duduk. Pengunjung begitu membludak, rasanya hampir mustahil mendapatkan tempat duduk. Yang ini  juga barusan dibersihkan oleh pegawai warung tersebut setelah dua menit ditinggalkan oleh pelanggan yang sebelumnya.

Ternyata kami masih harus lama menunggu giliran untuk dilayani. Nomor antrian kami 125, sekarang baru giliran pelanggan nomor 119, masih 6 orang lagi, “duhh..”

Kubuka notebook-ku karena aku ngga ingin mensia-siakan waktu, tentu setelah aku ijin pada Shabrina dan Drea.Untung aku membawa sendiri Mifi-ku yang internetnya cukup kenceng. Setelah pairing dengan perangkat notebookku yang dilengkapi teknologi Wi-Fi terbaru 820,11ac yang memiliki kekuatan 3 kali lipat lebih kenceng dari generasi sebelumnya yakni 820,11c. Maka urusan berselancar di dunia maya jadi lancar tanpa hambatan.

Kubuka e-mail, ku buka halaman admin websiteku untuk mulai menginput beberapa postingan yang tertunda, tak lupa kubuka tab facebookku, sekadar mengecek bila ada pesan-pesan yang masuk di Facebook Messengerku.   Aku memang terbiasa mengerjakan beberapa hal bersamaan, untung Notebookku  mampu membantuku bekerja multitasking.

Tiba-tiba ada panggilan video call di layar Facebook Messengerku, Hafez.
Setelah menimbang beberapa detik, kuputuskan untuk menerimanya.

“Assalamualaikum, Bella.. I hope, i do not disturbing you” 
“Alaikum Assalam, It’s Okay Hafez, i am on my relax time. Now is waiting for my dinner with friends”
Aku memberanikan diri melirik wajah Hafez di layar, Masha Allah.!. wajah Hafez yang tampan terpampang terang-benderang di layar notebookku yang memiliki teknologi Asus Splendid dengan sistem Vivid. Akurasi warnanya secara otomatis disetting dengan display maksimal. Gambar yang dihasilkannya benar-benar terang dan jernih.

Front-facing speakersnya menghasilkan suara yang langsung  membuatku terdiam menyimak nya, dengan 2 fitur audio kualitas terbaiknya, suara yang dihasilkan benar-benar jernih dan jelas. Apalagi teknologi Sonic Master yang dipadukan dengan teknologi Golden Ear yang dibenamkan di dalam sistem audionya, membuatku tak bisa berkata-kata selain terpesona menyimak suara merdu Hafez  dengan bahasa Inggris aksen Britishnya yang terdengar sekseh ..huft!

Aku cepat-cepat menurunkan pandangan mataku. dadaku berdebar-debar. Astaghfirullah, kenapa aku tadi nekad memandangnya ya? Dasar!

“Oo really? Are you on your holiday? Where are you know?”

“I am on the Senggigi beach, Lombok”

“Oww, woww.. I really interested with Lombok, I hope I can visit that island, one day. Is it Lombok wich was winning The World Halal Honeymoon Destination 2017?” 

“Yes” jawabku sedikit malu, entah mengapa aku jadi mikir yang engga-engga , hahaha, Dasar!

“Oh, Okay, can you send me something unique about Lombok? I am trying to find something different for my sister’s next summer collection ” 
Ah.. aku hampir lupa, Hafez dan saudara perempuannya sedang membuat line clothing muslim mereka. Sesuatu yang nampaknya sedang booming di negeri Pangeran William sana. Geliat Muslim E-Commerce sedang hangat-hangatnya, saat ini.

“How about this one? “ spontan aku mengacungkan sling bag bermotif  tribal Tenun Lombokku. Hafez terperangah sebentar, sebelum kemudian berkata
“Masha Allah, that’s so beuatiful and indigenous. Can you send me other motives?” 
“Insha Allah i will send you tomorrow”
“Okay, thanks a lot. See you later and have a nice holiday, convey my regard to your friends and family. Assalamualaikum”
“Aalaikum salam warhamatullah”
kukutup Messengerku dengan hati masih dag-dig-dug. Duuh.. inilah hasilnya kalau nekad Video-call-an dengan cowok ganteng, aku yang susah sendiri. Ya Allah..ampunilah aku.

“Eh, siapa tadi, Bella? Cowo kece ya? kok wajah kamu jadi merah jambu, gitu?” goda Shabrina, aku hanya tertawa.
“Ah, cuma teman” elakku jengah. Semoga Shabrina tidak terus menerus menginterogasiku.
Untunglah giliran kami tinggal dua nomor lagi. Shabrina segera maju mendekati Mas-mas yang bagian membakar sate, membisikkan sesuatu tentang pesanan kami. Aku tebak dia berpesan seperti ini:

“Mas, satenya dua puluh tusuk ya, jangan mentah, tapi jangan kegosongan, ya… bumbunya jangan kebanyakan kencur… bla..bla..bla..” hihihi, aku tersenyum sendiri.

Sebuah e-mail dari Ronald memintaku untuk mengirimkan file itinerary retreat yang akan aku adakan akhir tahun ini, jadi aku harus memastikan tempatnya di mana, perkiraan biaya sewa tempatnya, cateringnya, susunan acaranya dan lain sebagainya.
Aku ingat semua data tersimpan di flash disc-ku. Setelah mengacak-acak isi tas-ku, akhirnya kudapatkan juga. Ah, ini dia!

Port USB 3.1 tipe C

Huft! untung Asus Eeebook E202 ini dilengkapi dengan USB 3.1 type C yang bisa dicolok dari berbagai arah, dengan colokan reversible setiap saat, hingga sangat menghemat waktu. Hmm.. pengiriman E-mail-ku tak perlu menunggu lama. Beres sudah, tinggal menunggu tanggapan  Ronald, dan kami segera bisa meng-eksekusi, bagaimana akhir rencana retreat kami nanti.
Port USB 3.1 type C tersebut juga berfungsi untuk isi ulang batere, jika isi batere Notebookku menipis, tak butuh waktu lama untuk mengisinya.

Sumber Blog Ulinulin

Sate Bulayak sudah di depan mata, bau sedapnya menguar menusuk-nusuk hidung. Rasa lapar yang tadi sempat terlupakan, tiba-tiba datang kembali tanpa ampun. Aku tersenyum memandang Shabrina dan Drea yang balas menatapku dengan senyum penuh arti.

Bismillahirahmaanirahim, serbuuuu” teriak Shabrina lucu, kami tertawa sambil berebutan mengambil beberapa tusuk sate dan memindahkannya ke piring kami yang sudah terhidang beberapa potongan besar bulayak alias lontong gurih daun aren. Hmm Syedaappp!!


Suara adzan subuh sayup-sayup terdengar bersahutan merdu di gulita langit Lombok. Suara yang berasal dari beberapa masjid yang tersebar di hampir seantero pulau kecil nan eksotis ini.
Pantaslah Lombok dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid. Karena masjid bisa di temui di hampir tiap sudut kota atau desa.

Suara-suara tersebut terdengar syahdu dan merdu di telingaku, membawaku kepada masa kecilku yang aku habiskan di sebuah daerah yang cukup terpencil. Suara-suara adzan berpadu dengan suara binatang malam seperti jengkerik atau suara kepak sayap kelelawar dan burung hantu menjadi musik alam keseharianku. Suara yang membuatku terus merindukan alam desa yang damai dan tenteram.

Aku bergegas  bangun dan menuju ke kamar kecil untuk membersihkan diri. Setelah rapi, aku melangkah ke luar kamar, tujuanku adalah Mushala kecil di sudut Resort ini, atau sekalian mencari masjid terdekat di luar sana, sebelum mengunci pintu, terpandang olehku Asus Eeebook E202 Thunder Blue-ku yang tergeletak indah di atas meja di samping tempat tidurku. Ah, warna birunya yang segar dan ceria menghiasi sudut kamar mewahku di Varda President Suite Svarga Resort ini.
“Baik-baik ya, Sayang, aku mau pergi dulu, nanti aku akan bercengkerama kembali denganmu” bisikku pada gadget kesayanganku itu. Bye.. pamitku, lalu menutup pintu dan mengantongi kartu otomatis pembuka pintu kamarku.
Aku melenggang keluar sambil meresapi segarnya udara pagi. Menghirup dalam-dalam oksigen bersih ke dalam paru-paruku dan menikmati dinginnya hembusan angin pantai. Malam hampir beranjak pagi. Langit terlihat masih cukup gelap dengan taburan bintang-bintang di sana-sini. Masha Allah indah luar biasa CiptaanMU!

Sumber Pixabay

Hari ini hari terakhir kami berada di Lombok, esok kami akan menuju Surabaya. Kami bertiga benar-benar menggunakan waktu kami untuk menjelajah tiap sudut tempat yang sudah kami rencanakan sebaik-baiknya. Memasang mata dan telinga baik-baik, merekam setiap kejadian dan hal unik yang kami temui dengan kamera mirrorless maupun dengan kamera Zenfone Zoom S kami, kami sedang mengumpulkan gambar-gambar dan video terbaik untuk berbagai keperluan, baik itu untuk menunjang bisnis travelku, Shabrina untuk Line Clothingnya, dan Drea yang penghobi fotografi untuk koleksi portofolionya.

Sumber homeiswhereyoubagis

Kami bertiga sekaligus bergantian menjadi model untuk proyek masing-masing. Aku dengan proyek Travel Packages-ku, Shabrina dengan proyek Koleksi Lebaran Etnik dan Koleksi Liburan Pantainya, Drea yang juga fotomodel sekaligus fotografer alam dan kuliner,  sibuk luar biasa merekam dan memotret ini dan itu.

Sumer Danitanora blog

Kami juga kembali ke kampung tradisional suku Sasak untuk membeli beberapa helai kain tenun tercantik dan membuat dokumentasi koleksi kain tenun serta proses pembuatannya yang masih tradisional. Hafez mungkin akan jejingkrakan menerima file video-ku nanti.

Ah, mengapa tiba-tiba aku berpikir bahwa acara retreat yang rencananya akan aku dan Ronald  gelar di pantai 3 warna Malang itu, bisa juga digelar di sini, di Lombok, ya? Entahlah bagiku keduanya sama-sama indah, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.  Aku akan mengirim file video liburanku di Lombok juga padanya sesampai di hotel nanti. Agar Ronald bisa mempertimbangkan dan memutuskan  mana yang terbaik. Aku tinggal mendukungnya saja.


sumber-pixabay

Malam ini aku bergelung di sofa di depan jendela kamarku. Bulan muncul malu-malu mengintip di langit malam. Setelah seharian tadi kami bertiga menghabiskan waktu keliling Lombok untuk terakhir kalinya sebelum esok kami kembali ke Surabaya, tadi sore, kami mengakhiri petualangan kami dengan menjajal pijatan lembut nan memukau di Hagia Spa, Svarga Resort yang menawan. Segala kelelahan dan pegal-pegal di kaki, berlalu begitu saja, di tangan-tangan lembut nan kuat milik para terapist cantik yang santun. Alunan lembut musik tradisional yang menyentuh telinga, membawa kami terbang ke alam mimpi dan baru bangun setelah proses treatment-nya hampir selesai. Tubuh kami kembali bugar dan siap melanjutkan aktivitas lain  yang menanti.

Sumber Villasbook

Malam ini malam terakhir aku menghabiskan liburanku di Lombok. Malam ini, malam terakhir aku menikmati keindahan Varda Presiden Suite Private Pool yang memukau. Kamar yang indah, bersih dan nyaman, menghadap ke kolam renang pribadi yang langsung menghadap ke arah hutan pohon kelapa berlatar birunya laut Lombok yang indah memesona.
Esok aku akan kembali ke Surabaya, kembali berjuang dengan rutinitas pekerjaan yang seolah tak pernah jeda.

 

Tapi begitulah memang kehidupan yang aku pilih. Kehidupan seorang entrepreneur yang memimpin perusahaannya sendiri. Perusahaan yang aku handle berdua hanya dengan Shofia adik perempuanku satu-satunya. Sepeninggal Ayah, kami harus berjuang sendiri mencari nafkah, dan setelah beberapa kali mencoba berbagai pekerjaan dan memulai usaha bisnis, pada akhirnya aku dan Shofia memutuskan untuk memulai usaha bisnis travel ini, Bisnis yang bisa kami kerjakan berdua tanpa harus memerlukan modal yang besar ataupun kantor yang luas di daerah mahal. Bisnis yang bisa kami handle dari ruang tamu di rumah kami sendiri, bahkan bisa kami handle dari mana saja tempat di mana kami berada, asalkan kami memiliki gadget yang mumpuni , dan jaringan internet yang memadai.

Ah, aku sangat bersyukur memiliki Asus EeBook E202 ini. Notebook mungil nan cantik yang sudah hadir dalam versi Windows 10 ini sebenarnya memiliki empat pilihan warna, yakni Red Rouge, Silk White, Black, Dark Blue dan Thunder Blue.

Pilihanku jatuh pada warna Thunder Blue yang segar. Kupilih ia, karena ia bisa menemaniku bekerja di mana saja dan kapan saja. Sebenarnya aku memiliki satu lagi perangkat Notebook Asus, tapi tipe yang lama dan cukup berat. Setelah beberapa kali menentengnya ke sana -kemari dan hasilnya justeru membuat punggungku sakit dan penampilanku berantakan layaknya kuli panggul, akhirnya aku memutuskan untuk meletakan Notebook lamaku di meja “kantor”  kami,  di ruang tamu rumah peninggalan Ayah.

Ring..ting..ting..” nada sambung istimewa itu berbunyi, Ibu yang menelpon.
“Nduk, apa kabar liburanmu? kamu baik-baik saja?”
“Baik Bu, Ibu bagaimana?”
“Ibu baik-baik saja, adikmu bilang, hari ini ada pesanan 30 tiket ke  Dubai, apa kamu sudah tahu?”
“Wah, belum Bu, benarkah? Masha Allah berkah ini, Bu”

“Iya Alhamdulillah, coba kamu tilpun sendiri adikmu”

Nggih bu, segera Bella akan hubungi Shofia”

“Assalamualaikum, Kak, Kak Maaf aku masih kuliah, jadi  belum bisa hubungi kakak”

“O, ngga apa-apa, sekarang kamu udah ngga sibuk, toh?”
“Ngga, kak, ini  udah kelar kuliahnya”

“Ibu bilang, ada 30 pesanan tiket ke Dubai, benarkah?”

“Iya, tapi yang bener, pesenan 30 paket wisata ke Dubai, kak, bukan tiket pesawat ke Dubai..”

Oww.. benarkah, Masha Allah, Alhamdulillah!”

“Iya kak, aku segera kirimkan data-data kliennya ya kak, nanti separuh aku kerjakan dari rumah, yang separuh tolong kakak kerjakan”
“OK, Sayang, segera kirimkan datanya ke kakak, ya, kakak bantu dari sini” jawabku riang. Alhamdulillah, rejeki yang tak disangka-sangka.

Aku segera melompat dari sofa dan berjalan menuju meja  di sebelah tempat tidur. Kuraih Asus EeeBook E202 ku, kubawa ke teras belakang di pinggir kolam renang, kunyalakan lampu diluar agar lebih benderang. Malam ini aku sedikit lembur menginput data-data para klien-ku. Aku harus bergerak cepat. Kuharap malam ini juga pekerjaanku selesai, karena besok pagi aku ingin terbang ke Surabaya dengan hati ringan tanpa beban.

Lampu di luar ruangan agak redup, namun aku masih bisa melihat dengan jelas layar Notebookku. Aku bekerja cepat namun tetap teliti. Beruntung sekali Asus Eebook E202 ini dilengkapi dengan touch pach yang ukurannya lebih besar 36% dibanding notebook sejenis berukuran 11,6 inchi. Smart gesture pada touchpach-nya, sangat memudahkan aku saat harus melakukan draggig, page-scrolling, zoom-in, zoom-out,  dan execute cortana.



Durable full-size chiclet-keyboardnya membuatku bisa mengetik cepat, tepat dan nyaman, sehingga aku bisa menginput data dengan cepat dan lebih akurat, karena sangat kecil resiko kesalahan ketik. Selain itu, bentuk keyboardnya sangat nyaman dan tidak membuat tanganku pegal ,meski mengetik berlama-lama.

Meski aku memakainya cukup lama, ternyata, Asus Eeebook E202 ini tidak mengeluarkan suara berisik yang biasanya terjadi pada Notebook yang panas karena durasi kerja yang cukup lama. Ini karena teknologi fanless-nya , sehingga tidak lagi menggunakan kipas angin untuk mendinginkan mesin dan panel-panelnya. Sungguh menghemat tempat dan mengurangi gangguan suara. Sehingga aku bisa bekerja lebih tenang.

Alhamdulillah, dalam waktu satu setengah jam aku sudah menyelesaikan lebih dari separuh tugasku.
Aww… aku hampir lupa, aku tadi janji sama Hafez untuk mengirimakan file video tentang Kampung Sasak dan motif-motif kain tenun khas suku Sasak, Lombok. Segera kulepaskan MicroSD Card dari kamera mirrorlessku dan kupindahkan ke dalam lubang MicroSD reader yang ada di sisi kanan Notebook-ku. Dalam sekejap saja, aku sudah berhasil memindahkan file video hasil perburuanku tadi siang. Segera aku kirimkan kepada Hafez melalui e-mail.
Ah, ya selain itu ada pula tertaman HDMI micro port yang bisa digunakan untuk mentransfer video dari gadget lain ke Notebook ini . Misalnya transfer video dari Zenfone ke Notebook. Sungguh membuat pekerjaan jadi mudah dan cepat.

HDMI MicroPort dan MicroSD Reader

Satu lagi Video aku kirimkan melalui e-mail kepada Ronald, aku tambahkan keterangan bahwa itu hasil liburanku ke Lombok, barangkali Ronald punya pertimbangan lain sebelum kami membuat keputusan akhir tempat untuk retreat akhir tahun nanti.

Untunglah, Notebookku ini walaupun mungil, namun telah dilengkapi dengan 16GB Webstorage gratis untuk satu tahun. Asus Cloud Service yang mendukung secara menyeluruh seluruh kehidupan online saat ini. Aku bisa dengan mudah mengakses data kapanpun dan di manapun.

Aku akan beristirahat dulu, nanti malam rencananya aku akan bangun untuk Tahajjud, lanjut menyelesaikan tugasku sambil menunggu adzan Subuh. Setelah Subuh, kami akan bergegas menuju Bandara, untuk selanjutnya menuju Surabaya, dan mengakhiri liburan asyik nan tetap produktif di pulau cantik seindah surga ini.  tentunya dengan berat hati harus meninggalkan keindahan resort yang juga seolah serpihan surga di muka bumi ini.

Kupandangi Notebook mungilku nan tipis, Asus EeeBook E202 terduduk cantik di sudut kamarku di Varda President Suite Private Pool, sebuah kamar paling prestisius di dalam Svarga Resort Lombok yang memukau dan berkonsep Moslem Friendly ini. Bentuknya yang tipis bagaikan segaris lapisan cake nan lezat.

Asus EeeBook E202 ini telah menemaniku cukup lama, dan banyak membantuku dalam  menyelesaikan tugas-tugasku. Bersamanya aku tetap bisa menghandle pekerjaannku, kapan saja dan  di mana saja. Pun aku tetap bisa tampil penuh gaya, karena dimensi yang mungil dan bobotnya yang ringan serta tampilan warnanya yang segar, telah menjadi  pelengkap gaya hidup modernku. Bersamanya aku makin produktif dan kreatif  kapanpun dan di manapun.

KETERANGAN :
Kisah di atas adalah kisah fiksi yang dibuat dalam rangka  #AsusE202BlogCompetition  by uniekkaswarganti.com.  
Gambar-gambar Eeebook E202 di dapat dari website resmi Asus
www.asus.com/id dan file Google Drive Asus.
Kesamaan nama dan alur cerita mungkin hanya kebetulan belaka.

17 pemikiran pada “Selapis Asus EeeBook E202 di Sudut Varda President Suite Svarga Resort, Lombok

  1. Oalah..fiksi rupanya. Kirain mbaknya lagi di Lombok. Hahahah.
    Svarga ini emang cantik banget resortnya mbak. Saya pun cuma pernah lihat, belum pernah stay. Semoga ada rejeki bisa cobain staycation di sana 🙂

    Suka

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s