Ketika Label Halal Menjadi Syarat Global (Part 1)

Pertama kali mendengar tentang issue Halal -Non Halal (subhat / haram)  itu sudah puluhan tahun lalu, saat saya masih anak sekolah.

Hal yang cukup menghentakkan perhatian masyarakat Muslim Indonesia adalah saat beredarnya daftar temuan beberapa brand makanan dan minuman yang disinyalir mengandung unsur-unsur non halal.

image description

 

 


Daftar tersebut berdasar riset lapangan sejumlah Mahasiswa – Mahasiswi Fakultas Petanian, Universitas Brawijaya (UB) Malang, dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Tri Susanto., M.App.Sc pada tahun 1988, yang membuktikan temuan-temuan beberapa makanan dalam kemasan yang diambil sebagai sampel secara acak di beberapa minimarket seputar kampus UB **(yang indah, hijau dan asri, maklum itu almamaterkuu hahaha).

                                           
Sampel yang diuji adalah beberapa merek susu dan mie instan yang merupakan makanan sehari-hari para Mahasiswa UB. Di dalamnya ditemukan kandungan gelatin, shortening, lecithin dan beberapa jenis lemak yang kemungkinan dari hewan non halal, yakni babi.

lasagna-bakmi-mewah-loyang1
Bakmi Mewah SUDAH bersertifikasi HALAL

Penemuan tersebut yang menghentakkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mulai menyadari apa yang dikonsumsinya. Terutama ketika pengetahuan tentang ‘Teknologi Pengolahan makanan’  yang semakin berkembang sehingga, makanan tidak lagi murni sebagaimana asalnya. Tetapi bisa saja, dalam proses produksinya, telah bercampur dengan zat-zat yang diperoleh dari turunan bagian tubuh hewan yang non  halal.

Inilah titik awal kesadaran umat Islam Indonesia untuk mulai menyeleksi makanannya. Namun saat itu gaungnya masih sangat lemah. Orang akan menertawai kita saat kita melotot memandangi ingredients yang tertera di kotak makanan kemasan. Apa lagi kalau kita cerewet menanyakan asal muasal makanan, bahan-bahan yang dicampurkan pada masakan rumahan maupun warungan (yang hobi dibeli para Mahasiswa/i). Bisa -bisa digamparin Mbok warung atau dicibir sebagai “aliran sesat” oleh sebagian orang. Dan saya salah satu yang pernah mengalami hal itu.

Hal inilah yang mendasari usaha Majelis Ulama Indonesia untuk membentuk badan Pengkajian Obat,  Makanan dan Kosmetika (LP POM MUI).

Keputusan MUI No. Kep 18/MUI/1/1989 pada 6 Januari 1989 menjadi penegas berdirinya lembaga yang sangat penting bagi umat Islam Indonesia ini.

Tentu saja, hal ini kita tidak bisa melupakan andil besar dari Prof. Tri Susanto sebagai penemu sekaligus penggagas adanya label halal di Indonesia.

 Kesadaran Muslim di Barat
Sebenarnya kesadaran untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan, dan menghindari makanan non-halal di Indonesia itu sudah boleh dibilang terlambat.Sedangkan Muslim-muslim di barat sudah beberapa tahun lebih dulu menyadarinya. Hal ini selain dipicu karena minoritasnya Muslim di negara-negara Eropa, Australia dan Amerika, sehingga mereka tersadar untuk berhati-hati memilih makanan. Karena di mana-mana mereka terkepung dengan makanan yang subhat hingga jelas-jelas haram.Selain itu, banyak diantara Muslim barat yang memahami proses produksi makanan yang sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan kembali sisa-sisa tubuh dari hewan ternak (makanan utama masyarakat barat) dalam rangka program zero waste yang mereka canangkan, akibatnya adalah bermunculannya banyak zat-zat tambahan pada makanan, yang dulunya hampir tidak diketahui atau dikenal.

Bersambung ke Bagian 2

 

2 pemikiran pada “Ketika Label Halal Menjadi Syarat Global (Part 1)

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s