Beberapa hari ini timeline saya penuh dengan status kemarahan dan kekecewaan Netizen atas berita “PT Dirgantara Indonesia Dijual Ke China”, tepatnya Pemerintah dianggap telah mengijinkan pengusaha asal negeri Tirai Bambu tersebut untuk berinvestasi sehingga memiliki prosentase saham yang cukup signifikan di tubuh satu-satunya industri teknologi yang menjadi martabat bangsa tersebut.

Benarkah demikian?

Mengenal PT Dirgantara Indonesia
PTDI atau PT Dirgantara Indonesia pada awalnya adalah sebuah perusahaan industri pesawat terbang yang didirikan oleh Dr.Eng B J Habibie pada tanggal 26 April 1976 dengan nama PT Industri Pesawat  Terbang Nurtanio. Nurtanio pernah memproduksi roket dan terpedo dibawah lisensi Siemen Telefunken Jerman dan Felzedbrudge , Belgia. Pada 11 Oktober 1985 berganti nama dengan IPTN.

Pada saat krisis moneter melanda tahun 1988, Indonesia meminta bantuan keuangan pada IMF, dan IMF bersedia membantu dengan syarat IPTN harus ditutup.

Namun kemudian tanggal 20 Agustus 2000, IPTN  bangkit kembali dengan nama PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) .

img_20150806_150106_20150808220401346

IPTN menjadi sub kontraktor bagi industri pesawat lain seperti Airbus, Boeing, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya. Dibentuklah direktorat khusus yang menangani pembuatan komponen-komponen pesawat PTDI dengan nama Aerosructure.

Sampai dengan saat ini, tipe-tipe pesawat yang dilayani adalah : NC-212-400, CN235-berbagai varian, Airbus Military CN-295, Airbus A-320/A-321, A-350, A-380, Eurocopter EC255, EC725 dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, PTDI tidak hanya memproduksi berbagai jenis pesawat, namun juga helikopter, senjata dan menyediakan  pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat terbang.

Bahkan sejak 2007, PTDI bekerjasama dengan Kemetrian Riset dan Teknologi telah merintis pengembangan roket nasional. Ada 7 tipe roket yang dikembangkan, yakni 3 tipe Balistik, 2 tipe Balistik Kendali dan 2 tipe Kendali Aktif.

Momen Kebangkitan PTDI
Momen kebangkitan PTDI ditandai dengan kemampuan mengirimkan 4 pesawat CN235 pesanan Korea Selatan, 3 CN235 pesanan TNI AL , dan pesanan 24 Heli Super Puma dari Eurocapter.

Selain itu PTDI sedang menjalin  kerjasama dengan Korea Selatan dalam pembuatan pesawat tempur siluman KFX, serta menjajaki pembuatan versi jumbo dari CN235, yakni pesawat C295 dan N219.

Stand PTDI di Ajang Pameran Produksi Indonesia 2015
Dalam ajang pameran produksi anak negeri Pameran Produksi Indonesia 2015 yang digelar di Exhibition Hall, Grand City Mall Surabaya, PTDI turut membuka stand dan memamerkan beberapa prototype pesawatnya yang menjadi kebanggaan para pengunjung.

Terbukti Stand PTDI ramai diserbu pengunjung terutama dari kalangan pelajar untuk bertanya-tanya dan menggali informasi tentang PTDI dan produk-produk yang dihasilkannya.

img_20150808_132228_20150808220630286

Bangga bukan, sebagai bangsa yang besar, memiliki industri pesawat terbang yang merupakan industri teknologi tinggi?

PTDI Dijual??? HOAX!!! HOAX!!! HOAX!!!

Issue dijualnya satu-satunya industri teknologi tinggi kebanggaan Indonesia tersebut telah dikonfirmasi oleh Kepala Biro Humas PTDI yang menegaskan bahwa kepemilikan saham PTDI masih 100% milik pemerintah.

“PTDI adalah industri strategis yang diatur dengan undang-undang tahun 16 tahun 2012  dimana kepemilikannya 100% dimiliki oleh negara dan dilarang dijual kepada pihak asing manapun”

“Saat ini PTDI menjajaki kerjasama dengan Airbus, bukan dengan China,” tegas kepala Biro Humas PTDI.

Jadi dipastikan bahwa berita kepemilikan PTDI telah berpindah kepada pihak asing, dalam hal ini China adalah HOAX HOAX HOAX Guyss….

Mulai saat ini yuk kita cek dan ricek dulu sebelum percaya rumours begitu saja. Ini juga merupakan catatan bagi pemerintah Indonesia agar lebih berhati-hati dalam menandatangi kerjasama dengan pihak asing manapun, agar kedaulatan bangsa ini tidak tergadai.

Konfirmasi berita HOAX bisa dilihat di sini

Salam Satu Indonesia