Sertifikasi Halal atau Sertifikasi Haram , Mana Lebih Penting?

Maraknya kesadaran Masyarakat Muslim dunia untuk mengkonsumsi produk halal, menjadikan permintaan untuk sertifikasi halal pada banyak produk makanan semakin meningkat.

Kesadaran untuk menyeleksi makanan ini dipicu makin pahamnya umat Islam akan perintah agama dan pengetahuan maraknya produk makanan subhat yang beredar di masyarakat akibat perkembangan teknologi pengolahan pangan.

Namun demikian, beberapa pihak justeru memunculkan pertanyaan, mengapa sertifikasi halal yang diberlakukan? Bukankah akan lebih efektif jika diberlakukan sertifikasi haram saja? Karena jenis makanan halal lebih banyak bila dibandingkan dengan jenis makanan yang diharamkan?

Menanggapi hal ini,  Prof. Khaswar Syamsu, PhD, Staf Pengajar Departemen Teknologi Industri Pertanian sekaligus Staf Peneliti di Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB mengulasnya dalam sebuah tulisan di website resmi  LP POM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika , Majelis Ulama Indonesia), di sini .

Agen Restu Mande Surabaya, 08131503835

Pembagian Pangan Dalam Tiga Katagori

Sebuah hadist (ucapan Rasulullah Salallahu Alaihi WaSalam) menyebutkan:

“Sesuatu yang halal telah jelas dan sesuatu yang haram juga telah jelas. Dan diantara keduanya adalah perkara yang subhat (samar-samar). Seseorang yang meninggalkan perkara yang subhat berarti ia telah menjaga kehormatan dirinya dan agamanya. Barangsiapa telah terjatuh dalam sesuatu yang subhat, maka ia telah terjatuh pada yang haram” (hadist Bukhari-Muslim)

  1. Makanan Halal 
    Yaitu apa-apa yang diperbolehkan untuk dimakan oleh seorang Muslim, dan seharusnya untuk semua manusia.
    “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang halal dan tayyib (baik bagi kesehatan badan, jiwa dan pikiran) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu. (Quran Surah An Nuur: )
  2. Makanan Haram
    Ialah apa-apa yang dilarang untuk dikonsumsi seorang Muslim, dan seharusnya berlaku untuk semua manusia.”Diharamkan untukmu bangkai, darah, daging babi dan daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah ” ( Quran, surah Al Maidah , ayat 3).
    Pelarangan yang sama juga diulang dalam surah Albaqoro 173 dan An Nahl  114.beberapa hadist merinci jenis makanan haram lain, yakni dari jenis binatang buas, binatang menjijikkan dan binatang amphibi.
  3. Makanan Subhat
    Ialah apa-apa yang meragukan , baik karena ketidak jelasan zat kandungannya atau karena ada pertentangan hukum syar’i tentang kehalalan atau keharamannya.”Sesuatu yang halal telah jelas dan sesuatu yang haram juga telah jelas. Dan diantara keduanya adalah perkara yang subhat (samar-samar). ” Bukhari-Muslim

Perkembangan Teknologi Pangan

Pada dasarnya jenis makanan yang diharamkan memang lebih sedikit dibanding jumlah makanan yang diharamkan. Bahkan sebuah kaidah Ushul Fiqih mengatakan bahwa “Segala sesuatu itu awalnya halal sampai ada dalil yang menharamkannya”

Dalam terminologi sertifitasi halal, dikenal istilah positive list, yakni jenis makanan yang sudah pasti halal, dan tidak perlu disertifikasi lagi, contohnya, ikan, sayuran, buah-buahan, herbal dan bahan tambang.

Namun jangan melupakan, perkembangan teknologi pangan yang demikian hebat, membuat jenis makanan haram yang semula hanya sedikit itu, jadi merambah hampir setiap lini makanan terutama makanan yang terdiri dari bahan-bahan produk industri.

Makanan-makanan yang semula halal, bila dalam proses pembuatannya harus bersentuhan baik karena penambahan (additive) maupun penggunaan “zat haram” dalam proses (processing aids) seperti fermentasi, kristalisasi dan lain-lainnya, maka ia akan sampai pada fase subhat hingga haram.

Mana lebih penting, Sertifikasi Halal atau Sertifikasi Haram ?
Dalam usaha untuk menyeleksi makanan yang boleh masuk ke dalam mulut seorang Muslim, maka dibuatlah usaha untuk meneliti apa saja bahan-bahan yang digunakan untuk membuat satu jenis makanan.

Apakah ia berasal dari bahan-bahan yang sudah pasti halal atau ada tambahan bahan yang meragukan hingga haram?
Bila ia berasal dari bahan yang semula  dihalalkan, apakah dalam proses pembuatannya sudah sesuai syariah? Misalkan, hewan halal, maka ia harus dipotong secara syariat Islam.

Selain itu, hewan yang diharamkan, yakni babi, telah bertransformasi dalam berbagai bentuk bahan tambahan makanan lain, ia bisa jadi bahan pengental, bahan pengempuk, bahan pengkristal, bahan pelembut dan lain sebagainya.

Bahkan ia tidak hanya dicampurkan pada makanan saja, tapi ia sudah masuk ke hampir semua jenis barang yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka yang lebih penting adalah menyeleksi bahan-bahan baik bahan utama, bahan tambahan (additive) atau bahan penolong dalam proses (processing aids) , apakah seluruhnya terdiri dari bahan-bahan halal? Sehingga ketika seorang Muslim memutuskan untuk memilih sebuah makanan, ia terbebas dari bahan yang haram.

Hal lain yang perlu diwaspdai adalah fasilitas produksi. Misalkan wadah masak yang digunakan untuk memasak makanan halal, bila ia bekas digunakan untuk memasak makanan haram, maka ia mengkontaminasi kehalalan makanan tersebut, sehingga ia menjadi subhat.

Apa Contoh Produk Subhat?
Contoh : Es krim dibuat dengan menggunakan emulsifier (bahan pengemulsi), yakni senyawa kimia yang punya gugus hidrofolik (suka air) dan gugus hidrofobik (suka minyak).
Dengan penambahan emulsifier, fase  minyak dan fase air bisa bersatu  membentuk emulsi yang homogen dan stabil.

Emulsifier ini selain diterapkan di bidang pangan, ia juga diaplikasikan dibidang farmasi dan kosmetika. Kode untuk emulsifier bisa : E-322 (Lecitin), E-471 (mono dan digliserida asam lemak ) dan E-472 (Senyawa Ester dari monogliserida dari asam lemak).
IMG_20140829_082038~2_20140829083807697

Kita sering heboh dengan mengatakan semua emulsifier itu berasal dari bahan haram,  bahkan semua bahan berkode E dianggap turunan lemak babi. Sebenarnya TIDAK begitu.
Bisa jadi Emulsifier berkode E itu berasal dari sumber nabati atau hewani yang halal.

Bila emulsifier diproduksi di negara-negara non Muslim yang memang banyak mengkonsumsi babi, maka ia perlu dipertanyakan. Selain itu, bila ia berasal dari produk hewan yang halal, seperti sapi misalnya, maka ia harus dipertanyakan, apakah ia sudah disembelih sesuai syariat Islam?

Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan emulsifier ini masih bersifat subhat, sampai ia dipastikan bahwa ia berasal dari sumber nabati atau dari sumber hewani yang halal dan dipotong sesuai syariat Islam. Ia tidak bisa disertifikasi halal selama statusnya belum jelas.

Sertifikasi Haram, Perlukah?

Layaknya siswa-siswi yang mengikuti ujian, sertifikat hanya diberikan bagi yang lulus ujian, meskipun jumlah yang tidak lulus ujian lebih sedikit dibanding yang lulus.

Pemberian sertifikat “lulus”  ini bermanfaat untuk mereka yang berhasil. Sedangkan sertifikat “tidak lulus” perlukah diberikan pada siswa yang gagal ujian? Apakah ada gunanya mereka memiliki sertifikat yang menyatakan bahwa mereka “tidak lulus”?

Demikian juga dengan SERTIFIKAT HALAL, ia bermanfaat untuk meberi rasa tenteram bagi konsumen Muslim sebagai jaminan bahwa makanan tersebut boleh dikonsumsi oleh mereka. Sedang Sertifikah Haram apakah akan memberi nilai lebih bagi produsen makanan? Apakah mereka mengambil manfaat dari sertifikasi haram ini?
Agen Restu Mande Surabaya, 081331503835

Maka, jelaslah, mana yang lebih penting dan memberi manfaat, SERTIFIKASI HALAL atau sertifikasi haram? jawabannya jelas yang HALAL.

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s