Surabaya sudah penuh sesak!! Bernapas di kota ini sudah hampir bikin mati!! Suer! saat kamu naik mobil atau kendaraan lainnya , cobalah mematikan AC dan hiruplah udara di luar sana. Di jalanannya yang terus menerus macet sepanjang hari. Maka yang terasa adalah serbuan asap polusi yang bikin kamu hampir mati dan memang berpotensi membuatmu mati akibat menghisap racun-racun dan timbal yang datang dari knalpot kendaraan yang menjejali tiap ruas jalannya.

Oh, aku merindukan segarnya udara di desa. Yang menyeruak di ruang paru-paruku saat udara pagi masih bersih. Aku merindukan deburan ombak yang mencium bibir pantai saat aku memandangi luasnya laut di pantai utara pulau  Jawa setiap kali aku pulang menebus kerinduan pada ibuku. Aku ingin sekali tinggal  di sana lebih lama, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sana.

Sebut aku ini pemimpi, mimpiku begitu banyak. Mendesak-desak isi kepalaku. Mimpi itu sebanyak aneka ragam buah dan makanan lezat yang kurekam dalam ingatan masa kecilku . Mimpi itu sebanyak  aneka jenis mineral dan bahan tambang yang kuingat dari pelajaran geografi semasa sekolah dasar. Mimpi itu sebanyak aneka jenis kain batik, tenun dan songket yang kutahu bisa ditemui dari setiap daerah di seluruh sudut negeriku. Mimpi yang terus mendera sebanyak jerit tangis yang kudengar dari orang-orang di sekitarku yang menyiratkan kemiskinan dan kesedihan. Ah..negeri ini! Ada begitu banyak potensi! Tapi mengapa ada begitu banyak tangis dan kesedihan?

Dalam ketidak berdayaanku mewujudkan begitu banyak mimpi, akhirnya aku memilih menjadi penulis. Tepatnya blogger. Profesi yang menuntut keahlian berpikir dan mengolah kata menjadi informasi yang bermanfaat bagi banyak orang di ruang maya.

Nah apa yang terjadi? Dengan menjadi seorang blogger yang ada wawasanku semakin bertambah. Undangan meliput berbagai acara, lomba-lomba menulis, mau ngga mau membuat aku  harus banyak membaca dan belajar untuk memahami apa yang menjadi pesan dalam sebuah event di mana diriku diundang atau lomba yang diadakan oleh berbagai instansi.

Akibatnya, mimpi-mimpiku bukannya mandeg tapi semakin liar merambah ke mana-mana. Dengan melihat banyaknya peluang yang hampir..oh..tak terbatas. Membuatku semakin ingin mengejar mimpi lain selain jadi seorang blogger.

Melalui pameran-pameran UKM.aAku juga berkenalan dengan banyak sosok inspiratif dari berbagai daerah. Prestasi mereka ngga bisa dipandang sebelah mata. Para pengusaha aneka kerajina dan barang-barang seni. Produk mereka sangat berkelas. Oh GOD Indonesia ini KAYA!! dan lebih dari itu… penduduknya banyak yang kreatif dan pantang menyerah menghadapi kondisi perekonomian di Indonesia yang serba sulit. Nampaknya kesulitan-kesulitan itulah yang menuntun mereka untuk memeras otak, bagaimana cara agar tetap eksis. Ujung-ujungnya malah prestatif. Keren,  kan?

2015-08-08 16.00.42-12015-08-06 11.31.56-2

2015-08-06 12.54.49-6

Keterangan : Aneka produk kerajinan Indonesia yang berkualitas tinggi. Foto dokumen pribadi.

Dari Sabang Sampai Merauke, Dari Darat Hingga ke Laut

Dari Sabang sampai Merauke , negeri ini menyimpan kekayaan alam yang luarrrr biyasyaaahh!!! Masha Allah..sungguh Tuhan Maha Pemurah, telah menganugerahi kita dengan bumi luas nan indah penyimpan segala kekayaan dan potensi pengembangannya mulai dari apa yang ada di dalam perut bumi, di permukaan buminya, hingga ke dasar sanuderanya. Semuanya penuh dengan kekayaan tak terbatas. Maha Kaya Sang Pencipta!

Jika kita melongok ke negeri kecil yang nyempil nunut di ujung salah satu pulau kita saja,sebut saja Brunei yang merupakan bagian dari pulau Kalimantan , ia bisa menjadi salah satu negeri terkaya di dunia. Apatah lagi, induk semangnya yang memiliki sebagian besar luasan pulau Kalimantan yang besar itu,ditambah lagi pulau-pulau besar lainnya seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi dan ratusan bahkan ribuan pulau-pulau kecil yang berserakan sepanjang garis khatulistiwa. O..Sungguh KAYA Indonesia! Potensi sumber daya alamnya melimpah ruah! Pantaslah setiap bangsa berebutan datang untuk mencicipi kelezatannya.

Pohon siwalan, gula siwalan menjadi tren di luar negeri, tapi di dalam negeri, pohon ini mulai terlupakan
Pohon siwalan, gula siwalan menjadi tren di luar negeri, tapi di dalam negeri, pohon ini mulai terlupakan

 

Aku Ingin Kembali Ke Desa

Ya itulah pikiran yang terus memantul-mantul di ruang kepalaku. Aku ingin membangun mimpiku di sana. Di tempat di mana semua potensi sumber daya alam melimpah ruah. Di mana harga tanah tak semahal harga  tanah sejengkal yang diperebutkan untuk dibangun menjadi apartemen dan mal-mal di Surabaya.

Aku ingin membangun mimpiku di desa. Di mana bumi dan isinya menjanjikan kekayaan alam luar biasa yang menunggu tangan-tangan dingin dan jiwa-jiwa pantang menyerah untuk mengeksplorasinya. Aku lelah dengan segala ributnya hidup di kota. Aku lelah dengan hilangnya begitu banyaknya waktu dan energi di jalanan macet yang menurunkan potensi kecerdasan dan kreatifitas akibat harus berjibaku dengan para pengendara lain yang emosi dan stress.

Aku tahu, ada begitu banyak keputusan penting dan inovasi diciptakan di kota. Di gedung-gedung pemerintahan, di ruang-ruang rapat dewan, di laboratorium teknologi Universitas-universitas ternama, di sanggar-sanggar para seniman kreatif. Namun desa dan wilayah Indonesia yang luas ini. Di sanalah muasal  kehidupan yang sesungguhnya diciptakan.

Mustinya Desa Tak Membuatku Terbelakang

Aku tahu banyak orang yang terus  bertahan hidup di kota, karena tak tahu apa yang bisa dilakukan di desa. Idealisme boleh segabrek, tapi kalau fasilitas minim, apa mau dikata? Akibatnya banyak orang tak betah dan memutuskan kembali ke kota sekadar bisa hidup menumpang fasilitas umum untuk pergi ke tempat kerja, menjadi manusia seven to five. Pergi jam tujuh pagi, pulang jam lima sore. Sampai di kantor jam sembilan dan sampai di rumah jam tujuh malam. Terjebak rutinitas dan kemacetan yang membuat depressi, sekadar menjaga dapur tetap mengepul dari gaji yang tak lebih dari empat digit.

“Di desa sepi banget, ngga ada apa-apa” keluh Surya seorang pegawai negeri.

“Di desa ngga ada kerjaan, ngga tahu mau makan apa” tukas Mukidi, penjual poster di kaki lima TP alias pasar tumpah Tugu Pahlawan.

“Di desa ngga ada pekerjaan yang cocok dengan pendidikanku” keluh Sharmila, reporter sebuah televisi swasta di Surabaya.

Yah, saya mafhum..ada begitu banyak alasan yang akan disodorkan banyak orang, terutama mereka yang berada di usia produktif, mengapa mereka memilih bertahan dan tinggal di kota. Di desa sudah tidak ada harapan hidup. Bagi mereka, penghasilan dua juta sebulan atau gaji tiga puluh juta sebulan, hanya mungkin dicapai bila mereka mau hidup berdesakan di kota yang semakin sesak saja.

“Di desa itu ya, Ndeso!!, ngga ada McD, ngga ada KFC, ngga ada Mall. Mau les pelajaran aja susah, mau kursus bahasa, kursus fesyen atau apalah ngga ada. Internet juga lelet banget, ngga maju, ngga bisa update, ngga gahuulll” Adyanta seorang siswa SMU berprestasi, remaja keren pemenang finalis “Wajah 2016 , Majalah Bintang  Remaja” menumpakan kekesalannya akibat sering kecewa saat ikutan orang tuanya mudik ke desa.

Yaitu! kata-kata itu, keluhan-keluhan itu, sudah ratusan kali aku dengar dari mulut banyak orang, lengkap dengan sudut pandang dan alasan masing-masing. Tapi mengapa aku memikirkan hal yang berbeda? Aku terus menerus memimpikan hidup di desa. Aku tak bisa menyudahi bayanganku untuk hidup makmur bagai raja-raja dan tuan tanah, pemilik kerajaan perkebunan karet, pemilik kerajaan perkebunan kelapa, atau cokelat, atau kopi, atau pemilik restoran ala desa di tengah persawahan yang menjadi jujugan wisata orang-orang kota yang jenuh dengan kehidupan kota yang serba sibuk, atau  pemilik kapal-kapal penangkap ikan yang sukses makmur lalu akhirnya punya perusahaan penerbangan sendiri, kemudian ditunjuk  menjadi menteri, seperti Ibu Susi Pudjiastuti, hihihi.

Belum lagi suasana desa yang tenang tenteram, lalu pemandangan sunrise dan sunset di pagi dan sore hari yang bisa aku saksikan setiap hari, pasti sangat menginspirasiku sehingga aku bisa dengan tenang dan produktif menulis ratusan novel-novel romantis, atau buku-buku motivasi nan instiratif.

Aku juga bisa membantu masyarakat sekitarku untuk melihat potensi yang ada di daerahku, misalnya menanam kembali lahan kosong dengan tanaman-tanaman produktif yang bernilai ekspor dan berharga tinggi. Atau mengajari mereka membuat berbagai makanan sehat dengan mengolah hasil pertanian mereka. lalu memasarkannya langsung kepada warga dunia, lewat INTERNET! ya! itu dia! Internet!

2015-05-31 08.57.43-4

2015-05-31 08.57.45-62015-05-31 08.57.45-1

Keterangan : Tanaman kedelai, di proses hingga jadi kecap, salah satu produk kuliner unggulan Indonesia. Foto dokumen pribadi.

Betul sekali, di jaman yang semakin global, di mana bumi menjadi tak berjarak lagi ini, sekat-sekat geografis yang nyata menghalangi banyak peluang, bisa ditembus dengan menjadikanya maya. lewat satu teknologi . teknologi informasi dan komunikasi, internet!

Aku bahkan bisa tetep ngeblog, dan memenangkan lomba-lomba berhadiah pelesiran keliling dunia atau uang tunai puluhan juta, hanya bermodal laptop dan jaringan internet nirkabel, sambil duduk-duduk  di gubug di tengah sawah, mengawasi para pekerjaku menanam atau menuai padi. Uwowowow…asyiknyaaa!!

Antara Impian Dan Kenyataan

Mimpi boleh saja setinggi langit, tapi kenyataan kadang tak seindah harapan. Dalam kurun waktu liburan panjang seperti momen lebaran, liburan sekolah atau  acara keluarga yang menuntutku untuk  stay dalam waktu yang cukup  lama di desa, biasanya aku dengan semangat empat lima selalu mengusung semua persenjataanku. Buku-buku, laptop, Mi-fi, kabel ulur dan tak lupa sepeda lipat dan sepatu kets-ku. Tujuannya jelas! Selama di desa aku mau tetap aktif dan produktif.

Pagi sehabis shalat subuh, aku biasanya bersepeda atau jogging menikmati segarnya udara pagi di desa. Memandangi sawah ladang yang menghijau segar. Lalu berdiri di jembatan yang membelah sungai Bengawan Solo di sebelah rumah ibuku, untuk menyaksikan keindahan matahari terbit.

Dengan menikmati suasana desa yang segar,aku berharap mampu menangkap aura positif , untuk selanjutnya menggeber produktivitasku dalam menulis. Terkadang ada begitu banyak ide yang tiba-tiba bermunculan saat menyaksikan kehidupan desa yang khas dengan ciri masyarakatnya yang saling mengenal dan guyub. Namun apa daya? Ternyata semangatku tak bersambut dengan kondisi jaringan internet yang merupakan napas penting para pekerja kreatif sepertiku hu.hu.huuu…  nangis bombay di bawah puun nangka

Untuk sekadar berbalas chat di grup-grup blogger dan entrepreneur yang aku ikuti saja aku musti berjibaku dengan keluar rumah, mencoba menangkap sinyal data dari smart-phoneku. Apatah lagi saat harus mencari data dari Master Google dan mengunggah tulisan di blog. Oo sungguh perjuangan luar biayasah  berdarah-darah. Biasanya aku harus menempuh jarak dua kilometer untuk menumpang memakai Wifi di rumah salah satu saudaraku yang membuka kafe. Yups harus ada wifi untuk bisa terkoneksi dengan dunia luar. Itupun terkadang sinyalnya kembang kempis.

Otomatis produktivitasku  terhambat selama di desa. Aku ngga bisa menerima ini! O, Mannn… come on! ini udah tahun dua ribu geto loohhh. Haruskah masih ada kesenjangan yang merenggut semangat juang para pejuang kebenaran dan keadilan seperti diriku?  O no..no…

Maka bila ada banyak dead line kerja yang menunggu, dengan berat hati aku terpaksa mempersingkat kunjunganku ke desa, padahal waktu liburan masih cukup lama, dan sebenarnya aku masih ingin mengeksplorasi potensi-potensi yang ada di sekitar desa tempat tinggal ibuku.

Raksasa Tidur yang Menunggu Dibangunkan, Bom Waktu Yang Menunggu Diledakkan

Saat berada di desa, biasanya aku mencermati perkembangan apa saja yang terjadi di masyarakatnya, dan juga aku bepergian ke beberapa tempat untuk melihat-lihat potensi yang mungkin bisa digali. Dan aku cukup gembira dengan perkembangan di desa.

Di desa ibuku yang terletak di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sebenarnya boleh dibilang cukup maju. Masyarakatnya berciri progresif dan cepat mengadaptasi perkembangan tren yang ada di Indonesia. Terutama generasi mudanya. Contohnya saja, di sana sudah bermunculan usaha travel and ticketing, kafe dan restauran, digital printing, warnet dan jasa pengiriman barang yang aku yakin usaha mereka sangat bergantung pada kelancaran jaringan internet.

Namun aku melihat masih banyak potensi yang belum berkembang. Terutama dari kelompok masyarakat tradisional yang sebenarnya bisa dibantu untuk lebih maju dengan memanfaatkan teknologi internet. Contohnya para petani, peternak, nelayan dan pembuat kerajinan.

Cobalah bayangkan, di hamparan bumi Indonesia yang luas ini, banyak tanah subur yang telah rusak oleh penanganan yang salah akibat ketidak tahuan akut . Yang dibutuhkan adalah ilmu yang benar, dorongan, dukungan para ahli untuk mengubah mindset masyarakat tradisional yang selama ini hanya bisa menerima teknologi pertanian ‘modern’ tanpa pernah mempertanyakannya lagi. Mengadopsinya mentah-mentah, dan akibatnya justeru merusak kesuburan tanah dan tentunya menurunkan produktivitas tanah tersebut .

Penggunaan pupuk dan pestisida kimia telah meluas dan menjadi semacam pilihan satu-satunya bagi para petani. Bahkan merekapun bergantung pada para produsen bibit untuk menanami tanah mereka sendiri. Tak ada lagi kemandirian dalam bertani laiknya nenek moyang terdahulu. Akibatnya kesuburan tanah kian  tergerus oleh dampak pencemaran residu kimiawi. Tanah menjadi keras dan sulit ditanami. Ujung-ujungnya tanah kehilangan kesuburan dan produktivitas pertanian kian menurun.

Bertani menjadi sebuah pekerjaan yang sangat mengenaskan, antara biaya tanam dan perawatan tak sebanding dengan hasil panen. Belum lagi dampak negatif tanamannya bagi para konsumennya. Zat kimia berbahaya terpaksa ditelan masyarakat, karena kurangnya pilihan makanan sehat yang tersedia dengan harga terjangkau. Alhasil,  meningkatnya penderita berbagai macam penyakit di tengah masyarakat. Terjadi degradasi kualitas bangsa. Aww..

 

Padahal jika kita mencermati arah perkembangan pertanian masa kini di negara-negara maju seperti Jepang, Australia dan  Amerika, mereka justeru menerapkan pola pertanian kembali ke alam. Pola pertanian yang lebih sehat dengan meminimalkan bahkan meniadakan keterlibatan industri sekuler dalam campur tangan proses produksi pertanian. Terjadi gelombang penolakan yang massive terhadap rekayasa genetika bibit tanaman, misalnya terhadap jagung dan kedelai yang di Indonesia merupakan dua produk penting untuk industri pangan. Salah satunya tempe.

Berlomba-lomba petani di negara maju, mengoreksi cara bertani yang selama ini telah mereka adaptasi akibat intensnya keterlibatan industri sekuler dalam pola tanam para petani di seluruh dunia. Pilihan yang paling tepat adalah kembali ke alam. Kembali kepada pola pertanian selayak nenek moyang berlaku, tanpa meninggalkan cara-cara modern dalam hal teknis.

Di Indonesia, cara-cara ini justeru sulit diterima akibat leletnya transfer teknologi dari para ilmuwan kepada petani  di lapangan. Mengubah pemikiran para petani yang sudah tergantung dan bermanja pada perusahaan sekuler yang menyediakan bibit, pupuk dan pestisida secara instan, sungguh tidak mudah. Mereka telah kehilangan daya juang sebagai petani yang sesungguhnya. Mereka inginnya serba praktis, padahal sudah terbukti, penurunan kualiatas tanah dan hasil pertanian, yang berdampak kemerosotan pendapatan. Dan lebih jauh adalah degradasi kualitas sebuah bangsa. Miris!

Pendidikan, Pendampingan dan Jaringan Teknologi Informasi dan Komunikasi   untuk Kemajuan dan Martabat Bangsa

Para petani, seperti juga profesi tradisional lain di Indonesia seperti peternak, nelayan dan bahkan para produsen kuliner, selama ini bekerja hanya mengikuti tren kepraktisan tanpa ilmu yang memadai. Merekalah sebenarnya bagian paling mendasar tulang punggung ketahanan pangan di negeri ini.

Alangkah baiknya bila transfer ilmu dan teknologi dari para ahli bisa terjadi dengan mudah, murah dan berkesinambungan. Sehingga pola pikir mereka bisa diubah, lalu selanjutnya dibimbing menuju pertanian yang lebih bermartabat. Pertanian yang kembali kepada alam dan mengembalikan kekuatan petani sebagai pengambil keputusan dan pengendali usahanya sendiri.

Dan itu bisa terjadi dengan bantuan internet. Internet ! Artinya jaringan telekomunikasi nirkabel ini sudah menjadi salah satu kebutuhan primer dan prasyarat bagi masyarakat yang ingin maju dan hidup layak. Jadi kebutuhan primer saat ini bisa dirumuskan sebagai berikut : pangan, sandang, papan, dan internet.

Dengan menguasai teknologi internet dan didukung  keberadaan kekuatan jaringan yang andal, bisa diharapkan bahwa petani bisa belajar lebih banyak tentang tata cara bertani yang baik bagi alam, baik bagi tanaman dan bagi manusia sendiri. Selain itu mereka juga bisa  mengetahui, kira-kira tanaman apa yang sedang dibutuhkan masyarakat dunia, mereka bisa mencari informasi apa syarat tumbuh tanaman tersebut, bagaimana memperoleh bibit yang baik, bagaimana cara menanam dan memanennya, hingga ke mana dan bagaimana menjual hasilnya.

Tentunya bila mereka sudah bisa memanfaatkan sosial media untuk menjual hasil pertaniannya didukung website yang tepat, mereka bisa mendapatkan pembeli dari seluruh Indonesia dan dunia, serta memutus mata rantai perdagangan yang merugikan petani. Sehingga petani kembali digdaya dan mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Inilah tujuan mulia pemanfaatan teknologi nirkabel di kalangan petani.

Hal yang sama bisa diterapkan kepada para peternak, nelayan, pelaku home industry, produsen makanan, aneka kerajinan dan lain sebagainya.  Bila pekerjaan di bidang-bidang tersebut mampu menjanjikan kehidupan yang sejahtera dan bermartabat, bukan tidak mungkin, para pekerja migran Indonesia yang saat ini menggantungkan hidup sebagai pekerja domestik di luar negeri, bisa dipanggil pulang dan bekerja di sektor-sektor paling mendasar tersebut. Petani, peternak dan nelayan bukan lagi profesi yang berat dan memalukan. Tapi profesi mulia yang membanggakan.

Dengan demikian kita bisa menjawab seruan Presiden Joko Widodo  yang menyerukan  agar para pekerja migran di luar negeri dipulangkan kembali ke Indonesia, demi menjaga martabat bangsa. Saya semilyar persen setuju dan sangat mendukung seruan itu. Sudah saatnya kita tegakkan kebanggan sebagai bangsa yang besar. Dan lapangan pekerjaan akan  terbentang luas saat teknologi berpadu dengan kesadaran untuk bangkit di atas kaki sendiri. Merdeka!!

Tentu bukan sekadar memulangkan, untuk dibekali skill kerja lalu  kemudian dikirim kembali ke luar negeri, sebagai pekerja kelas bawah. Bukan ituuuu…!!!
Suruh mereka pulang, sediakan sarana pendidikan, sarana transportasi, jaringan telekomunikasi dan beri  dorongan serta wawasan untuk berwirausaha. Wira usaha paling mendasar adalah bertani berternak, dan lain-lain. Bukan untuk menjadi petani yang menderita dan  selalu kalah. Tapi untuk menjadi petani yang bangga dan bahagia.

Ledakkan 1001 Potensi Indonesia dengan Bantuan Jaringan Internet Yang Merata dan Lancar 

Selain potensi luar biasa di bidang pertanian, peternakan, perikanan, Indonesia masih memiliki 1001 potensi yang bisa digali dan dikembangkan. Dari pertanian, peternakan dan perikanan, bisa merambah ke berbagai usaha. Mulai dari industri makanan, minuman, pakaian, perhiasan, aneka kerajinan, parfum, biogas, apa saja deh. Banyak contoh yang bisa pembaca cari sendiri.

Masih ada lagi potensi yang perlu penanganan lebih baik yakni pariwisata. Wisata Indonesia bisa menjadi yang terbaik di dunia bila aspek-tersebut di atas telah ditata dan diperbarui. Karena sesenang-senangnya orang bepergian melihat objek wisata artifisial, pada akhirnya akan jenuh juga. Sangat berbeda dengan obyek wisata alam yang menantang dan membuat ingin kembali mengulang. Dan Indonesia yang luas punya semuanya. Gunung, laut, kebun, adat, budaya, kesenian dan kuliner yang menarik. Semuanya adalah aset pariwisata Indonesia.

Pemerataan  pembangunan yang berjalan sangat lambat di Indonesia perlu menjadi perhatian tersendiri. Ada jutaan anak muda nun jauh di pelosok sana yang punya segudang ide dan cita-cita tapi terhalang sarana dan prasarana. Betapa trenyuhnya saat menyaksikan desa-desa terpencil bahkan pulau-pulau terpencil di luar pulau Jawa yang penduduknya masih terbelakang. Mereka miskin dan sangat kekurangan dalam berbagai hal. Padahal mereka hidup di pulau-pulau indah luar biasa yang menjadi incaran turis-turis asing.

Pernah dengar Labuan Bajo,ngga? Itu tuh..pulau yang berdekatan dengan pulau Komodo. Konon alamnya seindah surga. Lautnya biru indah. Ada pantai berwarna pink. Bahkan saat matahari terbit dan tenggelam, warna langitnya bagai lukisan surga. Tapi masyarakat di sana hidup miskin dan kekurangan. Padahal ratusan turis asing dari Eropa, Australia dan Amerika setiap minggu datang ke sana.

Berapa banyak yang didapatkan penduduk lokal dari banyaknya turis yang menyambangi pulau mereka? Hampir tidak ada ! Kecuali menyewakan mobil omprengan yang butut dan tak diminati orang, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Semua hotel, restoran, kapal dan semua sarana pariwisata dimiliki orang asing. Orang asing Boo..!! Kok bisa? Lalu dimana letak keuntungan tinggal di pulau seindah surga bagi penduduk aslinya? Hampir tak ada! Miris!!

Itu hanylah  secuil potret kegagalan pemerataan kue pembangunan di negeri sejuta pulau ini. Kemakmuran masih terkonsentrasi di kota besar. Kekayaan hanya milik segelintir masyarakat tertentu. Sementara masih jutaan masyarakat Indonesia menunggu datangnya kesempatan. Jutaan potensi alam menunggu ditangani sebaik-baiknya. Jutaan ide menunggu diledakkan!!

Tentu saja saya percaya bahwa pemerintah sudah berusaha untuk mengatasi kemiskinan di berbagai daerah. Tentu saya sadar, tidak mudah bagi pemerintah untuk menangani Indonesia yang cakupannya sangat luas. Dan saya tentu paham ada begitu banyak perusahaan  milik pemerintah dan swasta yang telah beroperasi di  Indonesia. Mereka ini biasanya memberikan timbal balik kepada masyarakat berupa upaya pemberian bantuan baik dana pendidikan, kesehatan dan bimbingan Usaha Kecil Menengah. Saya sangat menghargai itu.

Saya turut  gembira ketika pemerintah memutuskan bahwa Pulau Sumba dijadikan pulau ikonik bioenergi di mana dikembangkan energi terbarukan yang memanfaatkan energi matahari, angin, air dan bioenergi yang melimpah untuk menyediakan sarana listrik bagi warganya. Mustinya program ini diduplikasikan segera ke seluruh kepulauan terpencil di Indonesia. Dan akan lebih lengkap bila jaringan teknologi informasi dan komunikasi bisa masuk ke daerah tersebut. Agar masyarakat setempat tak lagi terisolasi dan mampu mengembangkan diri ke arah lebih baik.

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, secara khusus telah  mendorong pemanfaatan teknologi informasi (IT) di kalangan komunitas perempuan dan para pelaku usaha (UKM) perempauan. Melalui  banyak workshop  dan roadshow ke beberapa kota besar di Pulau Jawa. KPPPA telah berhasil membuka mata banyak anggota komunitas perempuan dan perempuan pelaku usaha untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, guna memaksimalkan kegiatan usaha mereka. 2015-11-27 09.27.51

Dan yang paling menggembirakan XL Axiata selaku salah satu penyedia layanan seluler di Indonesia dan yang terbaik di wilayah Asia  telah menjalankan kewajiban sosialnya dengan berkontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Diantaranya adalah program bertajuk  XL Future Leaders 4 .

Program ini bertujuan untuk memberikan pendidikan soft skill untuk  melatih jiwa kepemimpinan di kalangan mahasiswa. Para mahasiswa dilatih untuk memiliki 3 kompetensi utama yakni:

  1. Komunikasi Efektif , sebagai kunci untuk menyampaikan pendapat dan bernegosiasi,
  2. Jiwa Kewirausahaan dan Inovasi yang dimaksudkan agar mampu melihat peluang usaha demi keuntungan  ekonomi  dan sosial.

  3.  Kemampuan Mengelola Perubahan, diantara mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menjadikannya peluang ekonomi dan sosial.

 

Selain itu XL juga memberikan bantuan perangkat komputer melalui  KUS-i atau Komputer Untuk Sekolah -interaktif, yaitu program skema terpadu dan berkelanjutan yang mentargetkan 500 sekolah.  Program ini dimulai tahun 2009 dengan memberika bantuan perangkat komputer dan jaringan internet. Bertujuan meminimalkan kesenjangan kemajuan teknologi sekolah di pedesaan dan perkotaan.

Pada tahun 2012 program ini dikembangkan lebih jauh  dengan mentargetkan siswa SMU untuk diberikan pelatihan kewirausahaan, gerakan sosial dan komunitas berbasis web. Sudah 247 sekolah di berbagai wilayah Indonesia menerima sekitar 570 komputer. Usaha ini sangat membantu pemerintah yang mentargetkan 1 komputer untuk tiap 20 siswa, pada tahun 2015.

Melalui program-program tersebut diharapkan terjadi percepatan pembangunan Indonesia melalui teknologi informasi dan telekomunikasi .Salut, dan bangga kepada XL Axiata. Semoga langkah ini diikuti oleh banyak perusahaan swasta lain. Bekerja sama dengan pemerintah, memeratakan pembangunan  sumber daya manusia dan sumber daya alam Indonesia. Mari kita dukung langkah ini demi cinta kita kepada Indonesia, Karena #KITAADALAHINDONESIA !!