Surabaya Creative City Forum, Sinergi Pentahelix Masyarakat Kreatif Surabaya

Kreatifitas!  Dalam sepuluh tahun terakhir, kata  ini semakin sering dibicarakan di Indonesia. Bahkan Menteri Marie Elka Pangestu mengawali sebuah  departemen bertajuk Kementrian Ekonomi Kreatif, belakangan  kementrian ekonomi kreatif beralih menjadi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  Dan kemudian dipisahkan menjadi Kementrian Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif atau disingkat BE KRAF sebagai dua institusi yang terpisah. BE KRAF ini merupakan institusi baru setingkat kementrian.

Pemerintah sangat mendukung  segala kegiatan kreatif yang memiliki nilai ekonomis dan mampu mendorong meningkatnya pendapatan masyarakat, disamping tentunya nilai tambah non finansial yang bisa berupa nilai edukasi, budaya, moralitas, jati diri  bangsa dan lain sebagainya.

Jika mendengar tentang kreatifitas dan orang-orang kreatif, kita masih sering membayangkan Bandung, Jakarta atau Yogya sebagai barometer  kreatifitas dan orang-orang kreatif.

Tak salah memang, karena puluhan tahun mereka telah menjadi trend setter dalam berbagai hal yang berhubungan dengan kreatifitas, seperti seni musik, filem, drama, fashion,  cendera mata, hingga teknologi. Seolah semua yang dihasilkan dari ketiga kota tersebut adalah yang terbaik dan tak mungkin tertandingi.

SCCF Sinergi Lima Unsur Masyarakat  Kreatif Surabaya

Surabaya  dengan penuh percaya diri mendeklarasikan diri sebagai  Kota Kreatif.  Surabaya ingin menyejajarkan diri sebagai kota kreatif tingkat dunia, tak kalah dengan kota-kota lain di Indonesia. Pada tanggal 4 Januari 2016, telah dibentuk  Surabaya Creative City Forum (SCCF)

Untuk mewujudkan hal tersebut SCCF menjalankan misi sebagai berikut;
1. Mendorong hadirnya kebijakan yang  kondusif bagi pertumbuhan  kembangan ekosistem ekonomikreatif.

  1. Bersama-sama pemangku kepentingan menerapkan 10 Prinsip Kota Kreatif.
  2. Membangun Platform Informasi dan Komunikasi sebagi wadah sinergi berbagai komunitas kreatif.

  3. Memfasilitasi Proses Kolaborasi  Kreatif antara birokrasi-akademisi-bisnis-komunitas, untuk menumbuhkan bisnis kreatif baru dan mengembangkan bisnis kreatif yang sudah ada.

  4. Berjejaring dengan kota kreatif  di seluruh dunia untuk mempercepat terwujudnya Surabaya sebagai Kota Kreatif Berdaya Saing Global.

Banner Selamat Datang peserta SCCF
Banner Selamat Datang peserta SCCF

SCCF Meeting

Pagi itu,Rabo 4 Mei 2016, di lantai 3 Harris Pop Gubeng Surabaya akan dihelat sebuah penanda tanganan nota kesepahaman antara lima unsur (Pentahelix) yang mendukung terwujudnya Surabaya sebagai Kota kreatif berdaya saing Global.
 Hall masih sepi. berbagai persiapan untuk jamuan makan siang bersama Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini, dan Wakil Walikota Surabaya,  Bapak  Wisnu Sakti Buana serta  peserta seminar telah tertata rapi.

Sebuah spanduk Selamat Datang dan Tulisan Surabaya Creative City Forum berwarna-warni dengan dominan ungu di atas selembar kain banner berwarna putih telah terbentang di pintu masuk. Kursi-kursi tertata rapi. Meja-meja berhias dengan taplak dan   seperangkat alat makan telah disiapkan di atasnya, menunggu saat jamuan makan siang tiba. Beberapa petugas sound system masih berkutat untuk memastikan segala persiapan audio visual telah siap untuk mensukseskan acara tersebut.

Saya pun beralih ke meeting room.Di sana telah menunggu panitia SCCF yang sepertinya berasal dari para pegawai dan staf  PT.Telkom dan PT.Propan sebagai sponsor acara tersebut.

Geliat Orang-orang Kreatif Surabaya

“Rek, ayo Rek,.. malaku-malu nang Tunjungan..”

O..O…

“Ada Apa Dengan Toenjoengan? ” (AADT) hi..hi..

Jawabannya tentu ada banyak hal. Jalan Raya Tunjungan yang legendaris menyimpan banyak sekali sejarah kota Surabaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. Sebuah hotel legendaris yang dulunya merupakan tempat bersejarah  yakni perobekan bendera Belanda oleh Arek-arek Surabaya, berada di jalan ini.

Masih di terusan Jalan Tunjungan, yakni di jalan Gubernur Suryo, terdapat sebuah bangunan peninggalan Belanda yang saat ini digunakan sebagai Rumah Dinas Gubernur JawaTimur.
Terpisah oleh dua bangunan , terdapat peninggalan bersejarah lain , yakni bekas sebuah bangunan tempat para sosialita Belanda berkumpul, De Simpangsche Societeit, yang sekarang dikenal dengan nama Balai Pemuda Surabaya.
Selain tu Jalan Tunjungan kini dipadati dengan mall, hotel, pertokoan,  exhibition hall dan lain sebagainya. Hingga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya, akhirnya memutuskan untuk berkantor di Jalan Tunjungan.

Lalu apa hubungannya Jalan Tunjungan dengan kreatifitas?  Banyak… Mostly even-even kreatif Surabaya memang diselenggarakan di Jalan Tunjungan sebagai jantung kota Surabaya.

Sebut saja berbagai ajang seni dan budaya yang sering digelar di Balai Pemuda. Lalu acara pesta rakyat yang biasanya menyertai peringatan Hari Jadi Kota Surabaya, biasanya di gelar, live,  di jalan raya  Tunjungan.

Meskipun saat ini sudah banyak tempat lain yang bisa diakses para kreator seni dan pekerja kreatif Surabaya, namun nilai  wibawa  Jalan Tunjungan sebagai pusat pagelaran seni, budaya dan kreatifitas di Surabaya, masihlah tetap melegenda.

Yang menggembirakan, saat ini, geliat seni dan budaya di Surabaya tak terbatas pada kesenian tradisional seperti ludruk, tari remo, wayang, gending dan lain-lain. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi , kesenian dan kebudayaan khas Surabaya dan Indonesia, sudah dikemas dalam bentuk kreatifitas modern berbasis IT.
Mau tahu? Pantengin terus postingan berikut ini 😀

Insan Cerdas Indonesia  School

Saya masuk ke dalam meeting room, masih sepi. Perhatian saya pun tertuju ke sudut kiri belakang ruangan. Di sana ada seperangkat pernak-pernik kreatif hasil olah pikir siswa-siswi SMU Insan Cerdas Indonesia   School. Sebuah institusi pendidikan non formal, yang lebih menitik beratkan pada kreatifitas siswa-siswinya dalam bentuk karya nyata.

IC-High-School1

Nampaknya Disain Produk dan Disain Komunikasi Visual menjadi mata pelajaran favorit, di sana. Ini terlihat dari karya-karya yang mereka pajang. Sangat menarik dan tentunya memuaskan jiwa kreatif yang meledak-ledak dalam diri para muda yang penuh semangat itu.

IC-Creativepreneurs-School-brocure

IWAPI , Ikatan Mama-mama Kreatif

Saya pun beralih ke tempat duduk di deretan depan, eh.. ketemu Bu Merry Angelia.  Anggota IWAPI yang sempat saya kenal waktu  acara Workshop pengenalan Teknologi Informasi Bagi Perempuan dan Remaja, oleh Kementrian Pemberdayaan  Perempuan dan Anak, di Garden Palace beberapa bulan yang lalu . Mau tahu lebih jauh, klik di SINI yaa

Bu Merry ternyata memenangkan sebuah penghargaan Be Womenpreneur, karena konsep Mobile Cafe alias Mofe-nya. Mofe ini adalah jenis cafe yang bisa dipindah-pindah karena menggunakan kendaraan roda tiga yang dipasangi box dibelakangnya. Box tersebut didisain layaknya cafe mini dengan segala atributnya seperti wifi–makanan dan minuman kesukaan para muda.  Hmm..Mumies emang Rock, yaaa. 😀

Bu-merry-IWAPI-MoCaf-motion-cafe

Ada Gamers di Surabaya

Eh, Gamers apaan? para penggemar game? pemain game? pecandu game?

Bisa jadi. Tapi ini lebih dari itu. #eh?

Di Surabaya sudah ada, loh…  perusahaan atau game developer  yang terdiri dari anak-anak muda kreatif yang secara aktif sudah memproduksi berbagai game  yang tentunya bermuatan edukatif, mengusung nilai budaya Indonesia dan ada pesan-pesan moral yang diselipkan, meski tetap mengutamakan unsur hiburan. Namanya Maulidan Games. 

Game Developer of the Year 2015 Award
Game Developer of the Year 2015 Award

Para pemuda kreatif ini adalah lulusan  Institut Teknologi Sepuluh Nopember , sebuah institusi pendidikan berbasis teknologi yang kondang sejagad raya itu. #eh se indonesia.. atau …  Asia… dan umm..mungkin juga udah dikenal di dunia. Pasti, dah! Kan anak-anak ITS banyak menciptakan karya-karya  kelas dunia!

Coba simak nama-nama games  karya  mereka : Fuad The Explorer, Merchant of Pasai, Save Punyu, Pandav Heroes of Hastina, Nusantara Culinary Tycoon,  Harvest Story, Idle game dengan tema bercocok tanam,  Tropical Ice Tycoon, Idle Choco Tycoon, game adiktif bagaimana menjadi pengusaha cokelat, dan masih banyak lagi. See? Indonesia banget, kan tema-tema yang diangkat?

Gambar diambil dari web resmi Maulidan Games
Gambar diambil dari web resmi Maulidan Games

Tujuan dari beberapa tema yang diangkat dalam game-game karya Maulidan Bagus Afridian Rasyid dan teamnya tersebut, tentunya untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia melalui sejarah, budaya, alam Indonesia dan makanan khas Indonesia tentunya. Dengan media game. Catet!

Tak hanya piawai memproduksi game. Maulidan Games juga mengembangkan sendiri engine game yang mereka beri nama Diamond Development Engine  4.0. pada tahun 2015.  Engine tersebut merupakan pengembangan versi ke empat dari engine yang sama, yang mereka produksi sejak tahun 2014. Pada tahun 2014 itu juga, mereka sebenarnya telah memproduksi beberapa engine jenis lain, seperti Amethyst Iso Engine, Aquamarine  Management Engine dan lain-lain.

Pada Tahun 2015 saja, mereka sudah memproduksi 25 games, sehingga menjadi  Produsen Game terbanyak se Indonesia, atau Asia ?
Dan hasil kerja keras mereka berbuah manis, penghargaan Developer of The Year  dari ajang Game Developer Gathering  2015 telah mereka  sabet.  Tentunya hal ini semakin meningkatkan  integritas mereka di ranah Game  Developer, dan otomatis menaikkan rate mereka tentunya 😀

Jangan salah ya, konsumen mereka banyak yang dari luar negeri loh. Ini salah satu bukti bahwa, produk dan kreatifitas anak bangsa Indonesia tidak kalah, dan mampu sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Surabaya Punya Animator  Keren

Filem animasi dirajai oleh Walt Disney? dan Jepang? Oh.. itu kan jadul.. alias j-a-m-a-n  d-u-l-u yang kekinian,tuhh... animator-animator keren justeru bermunculan dari Indonesia. Filem-filem animasi Holywood pun banyak diproduksi dari tangan pemuda-pemuda Indonesia .

Ngga percaya? pernah dengar filem Transformer 2,  kan? Nah versi Indonesianya , tentu saja dikerjakan anak-anak Indonesia dong, tepatnya oleh sebuah studio animasi  di Solo.  Lalu, sebuah studio animasi di Batam, tenyata adalah produser beberapa filem animasi Hollywood seperti, Garfield Show , Lucky Luke, Leonard / Dr. Contraptus, dan Franklin and Friends. Terus, ada Rini Sugianto, perempuan Indonesia yang sukses menjadi team Steven Spielberg untuk memproduksi The Adventures of Tintin dan The Avengers.

Di Surabaya, sudah ada  Jelasin (dot) com. Oke deh, Jelasin (dot) com, memang bukan secara spesifik membuat filem animasi bioskop, apalagi animasi yang diadaptasi dari buku seperti yang kita sebut-sebut di atas. Jelasin(dot)com lebih fokus untuk membuat animasi yang bertujuan untuk menjelaskan suatu produk. Jadi lebih bersifat membantu para Start-Up-ers untuk menjelaskan apa dan bagaimana serta apa kelebihan produknya pada konsumen.  Dan lagi-lagi client mereka sudah datang dari seluruh penjuru dunia. Kweren kan??

jelasin-qalam-motion
Mas “OrangUfan” dan jelasin(dot)com projects

Salah satu produk Jelasin(dot)com adalah QalamMotion. Sebuah serial animasi yang mengusung dakwah , agar konten-konten agama  lebih mudah dipahami dan lebih mudah diingat.

Mas Taufshwara Diashwandaru (aduh.. maaf kalo salah tulis, syusyaahhh mengeja namanya 😀 ) Founder , CEO dan Produser dari Jelasin(dot)com ini lebih suka memanggil diri sendiri dengan sebutan OrangUfan, hihihi… kok mirip.. hehehe.  Low Profile banget sih, orangnya.

Namun karyanya engga sepele loh. Terbukti karya-karyanya telah banyak dibeli oleh konsumen luar negeri, dan tentunya menambah khazanah ekonomi kreatif berbasis IT yang tumbuh di Kota Surabaya.  Produk anda kurang dipahami konsumen, JELASIN doong 🙂 🙂 🙂

Board Game, Pengikat Kehangatan Keluarga

Tahu dorayaki kan? apa itu? tahunya darimana? Terus dari mana kamu pertama kali mengenal pizza  dan bagaimana kamu tahu kalau makanan itu adalah makanan khas Italia?

Iya Doraemon dan Kura-kura Ninja. Dua filem animasi anak itu ternyata telah sukses mengenalkan  kekayaan kuliner negara masing-masing. Meski cerita dalam animasi tersebut tidak secara langsung fokus pada produk pangan. Namun kesuksesan filem animasi untuk mengangkat kultur setempat menjadi budaya kelas dunia, nampaknya telah menggelitik Mas Adhicipta R. Wirawan untuk menciptakan sebuah board game untuk mengenalkan kuliner khas Indonesia. Yakni Waroeng Wars.

Waroeng Wars Cards
Waroeng Wars Cards

Mengapa Board Game? Mas Adhi justeru merasa bahwa kecanggihan teknologi telah menciptakan jarak pada anggota keluarga dan menghilangkan sisi kehangatan diantara mereka. Iya sih, siapa yang ngga ngeh kalau gadget itu bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Nah selain itu, biaya pembuatan Board Game tentu lebih terjangkau dibanding biaya pembuatan sebuah animasi, bukan?

Bahkan, Mas Adhicipta yang juga seorang dosen itu berusaha agar prinsip ekonomi yang diajarkannya kepada para Mahasiswanya , menjadi lebih mudah dipahami melalui  Power Grid, factory Manager  Board Game. Asyik, kan?

board-games-introduction

Bikin Filem Yukk..

Dulu kalau bicara filem kita selalu berpikir bahwa membuat filem itu ribet. Membuat filem itu susah dan pastinya berbiaya besarrr.

Aih… tapi itu dulu,……. Sekarang? Beda lagi. Kita bisa saja loh bikin filem dengan biaya “irit” dan ngga harus dengan konsep yang muluk-muluk dan ngga perlu bayarin artis TOP. Cukup kita dan orang-orang terdekat aja.

 

Itulah yang ingin dibuktikan oleh Mas Fauzan dan kawan-kawan bersama komunitas Independen Filem Surabaya alias INFIS.

infis-institut-film-surabaya

Independent Filem Surabaya ini terbentuk tahun 2000. Semula kegiatan INFIS  hanyalah memproduksi filem , bekerja sama dengan para filmmaker lokal, selanjutnya INFIS  membuat ruang tonton publik yang fungsinya adalah  memutar filem-filem karya sineas lokal Surabaya, membuka ajang diskusi dan pada akhirnya INFIS  juga membantu pendistribusian filem hasil karya sineas Surabaya, keluar daerah.

INFIS  ini terbuka bagi siapa saja tanpa memandang golongan, ras, suku, agama, umur de el el.  Terbukti adanya sineas termuda dalam komunitas ini.  Tristaannnn!!…. yang umurnya baru 6 tahun. Huu.hu..hu.. dulu seumuran Tristan, kita masih ngapain ya Boo…

Inspiring banget deh.  Duh, jadi makin semangat dan makin yakin kalau Surabaya mampu menjadi  Global Creative City seperti yang dicita-citakan oleh segenap Komunitas Kreatif di Surabaya.

Regenerasi Rek!

Selain Tristan yang sudah mengawali generasi kreatif sineas termuda Surabaya,  diharapkan akan tumbuh lagi generasi-generasi kreatif berikutnya. Karena Maulidan Games sudah mendirikan Maulidan Academy. Animo masyarakat ternyata cukup menggembirakan.

Dan saya yakin akan tumbuh akademi-akademi kreatif lainnya yang menyasar generasi termuda Surabaya , mulai dari usia 7 tahunan. Superb!!

tristan-film-maker-terkecil-surabaya

Yang Punya Blog "numpang
Yang Punya Blog “numpang nampang” 😀

Penanda Tanganan Piagam Pentahelix 

Sebagai penanda bahwa Surabaya telah siap menjadi  Global Creative City, maka dilakukanlah penanda tanganan Piagam Sinergi Pentahelix antara  Pemerintah,- dalam hal ini diwakili oleh Wakil Walikota Surabaya, Bapak Wisnu Sakti  Buana-., bersama wakil unsur Bisnis, Akademisi, Komunitas, dan Media.

Penandatanganan Piagam Pentahelix
Penandatanganan Piagam Pentahelix

Resmilah sudah Surabaya menyandang predikat sebagai Kota Kreatif bertaraf Global yang siap bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia dan dunia dalam menghasilkan karya-karya kreatif tingkat dunia. Bravo!!

Tanda Tangan "GUE" paling Gede :D
Tanda Tangan “GUE” paling Gede 😀

 

 

5 pemikiran pada “Surabaya Creative City Forum, Sinergi Pentahelix Masyarakat Kreatif Surabaya

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s