Blogger itu identik dengan review produk dan lomba-lomba berhadiah. Ya, di era di mana media online telah menggeser kedudukan media konvensional (offline),  maka banyak brand yang sebenarnya sudah sangat menyadari bahwa mereka butuh banget para blogger untuk me-review produk mereka.

Karena target market saat ini lebih suka memelototi gadget dan merespon akun sosial media dibandingkan harus membaca koran dan  majalah yang mana mereka harus pula keluar uang untuk membelinya.

Fenomena beralihnya banyak media offline yang ternama, menjadi media online tentunya bukan sesuatu kebetulan. Hal ini terkait habit baru masyarakat melek teknologi yang  tak bisa lepas dari gadget hampir  dua puluh empat jam sehari dalam seminggu. Bahkan televisi-pun jarang disentuh, karena berinteraksi dengan banyak orang lebih asyik dilakukan lewat media sosial yang makin beragam. Artinya, promo-promo lewat media online tentu lebih efektif selain pasti lebih murah.

Mengapa Brand Membutuhkan Blogger ?

Ya.. seperti dijelaskan di atas, alasan pertama adalah karena target market lebih dekat dengan media online dibanding media offline.

Alasan kedua adalah, ulasan seorang blogger dalam blognya bersifat  lebih  enak dibaca karena mengusung ciri khas masing-masing blogger, sehingga lebih bersifat personal. Hal ini membuat pembaca (baca; target market) merasa lebih mudah menerima “pesan-pesan”  yang akan lewat berikut ini, uppss.. maksudnya.. yang ingin disampaikan oleh Brand tersebut.

Selain itu, blogger juga berusaha mengerahkan kreatifitasnya secara maksimal sehingga membuat sebuah postingan  menjadi enak dibaca, dilihat  dan dipahami.

Ditambah lagi, blogger memiliki banyak komunitas dan akun media sosial yang membuat sebuah pesan yang disampaikan pada postingannya berpotensi menjadi viral.

MOU_blogger_agensi

 

Blogger, Agensi dan Brand

Kami meyadari, bahwa sebuah brand sebelum memg-hire seorang blogger tentunya sudah menyiapkan dana yang cukup pantas. Mereka memahami adanya simbiosys mutualism antara blogger dan Brand. Masalahnya, biasanya Brand besar itu meng-hire blogger melalui tangan ke dua, yakni, para agensi.

Nah di sinilah, masalahnya. Banyak agensi yang baik, sih, maksimal satu bulan dari selesainya pekerjaan, mereka sudah membayar jasa blogger. Masalahnya ada juga agensi yang  “terlalu sibuk” atau malah “nakal”. Di mana mereka menunda-nunda pembayaran jasa blogger yang telah memenuhi kewajibannya dalam membuat review produk.

Dipending Berbulan-bulan,Sampai Tahunan

Mungkin banyak Brand yang tidak mengetahui kasus ini, karena mereka tidak pernah berhubungan langsung dengan para blogger. Yang mereka tahu, sebelum mereka menjalankan sebuah campain atau meminta product review, mereka sudah menyiapkan dananya di awal.

Sedangkan dari pihak blogger sendiri, sudah ada seperti kesepakatan tidak tertulis, agar mereka tetap menjaga hubungan baik dengan agensi dan brand. Sehingga demi sopan santun ketimuran, banyak blogger yang baru berani menagih haknya, setelah berjalan sebulan atau dua bulan setelah job review selesai.

Sayangnya banyak agensi yang entah karena terlalu sibuk atau apa,  merespon  sangat lambat terhadap blogger yang meminta haknya. Hal ini juga berlaku pada beberapa blogger yang mengikuti lomba-lomba berhadiah.  Ada yang agensi atau panitia  lomba menunaikan kewajibannya setelah empat bulan, bahkan sampai setahun, bahkan ada pula yang hingga dua tahun. Waahhh.. masak sibuk atau lupa sampai selama itu, ya ?

Penulis VS Penerbit

Lain,  blogger, lain pula penulis. Banyak penulis yang mengalami masalah dalam pembayaran royalti oleh penerbit. Banyak penulis buku yang sudah mengeluarkan banyak effort untuk menulis  sebuah buku, (sama seperti blogger yang sudah merawat blog, membeli domain dan mengikuti berbagai kursus untuk membuat blognya readable dan SEO friendly), ternyata mengalami kendala ketika menagih pembayaran royalti dari penerbit.

Hal ini, tentu sangat mengganggu kinerja dan semangat penulis itu sendiri. Mungkin banyak diantara blogger dan penulis yang punya pekerjaan utama dan menjadikan nge-blog dan menulis hanya sebagai pelengkap kegiatan saja. Namun bagaimana dengan para full-timer bloggers and  writers ?

Tentu sangat kasihan bila kita melihat nasib mereka yang hanya menggantungkan diri pada honor-honor tersebut..

Disinilah perlunya ada etika yang harus disepakati kedua belah pihak, antara agensi  dan   blogger, penulis dan penerbit.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada para agensi dan tentunya dengan menjunjung tinggi profesionalisme antara kedua belah pihak,

Kami sebagai blogger dan juga (mewakili) para penulis, akan sangat menghargai, apabila ada agensi dan penerbit yang mau membuat surat perjanjian tertulis di awal, tentang tata cara dan syarat penulisan dan pembayaran. Serta adanya kesepakatan waktu maksimal pembayaran pekerjaan yang ditanda tangani kedua belah pihak. Inilah sikap kerja profesional yang semestinya dipahami dan dijunjung kedua belah pihak. Sehingga ada saling menghargai antara blogger, agensi, penulis dan penerbit.

Demikian, semoga dimengerti dan dijadikan pertimbangan. Terima Kasih.