“Traveling, it leaves you speechless, then  turns you into a storyteller”- Ibnu Batuttah, the first Muslim traveler in history.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan mayoritas 85% muslim di dalam negeri (data Wikipedia), maka program  Wisata Halal merupakan pilihan paling tepat bagi Indonesia.

Fenomena ini telah menggeliat sejak  belasan  belasan  tahun yang lalu. Semakin banyaknya penduduk dunia yang kembali kepada agama Islam, dari semua ras dan suku bangsa, menjadikan demand atau permintaan wisata halal terus berkembang.

Hal ini segera ditangkap oleh beberapa tour agents di beberapa negara Eropa. Mereka  membuat berbagai paket wisata yang menyuguhkan tempat-tempat wisata di negeri-negeri muslim nan eksotis dan sarat sejarah. Tak cukup itu saja, negara-negara muslim yang telah maju seperti Riyad, UAE , Qatar, Bahrain dan Turki pun menangkap peluang tersebut dan berlomba menyajikan paket Wisata Halal yang secara gencar mereka promosikan kepada para wisatawan manca negara, terutama kepada  western moslems.. Mereka sangat serius  menggarap paket  ini. Kelima negara yang disebut di atas juga telah resmi mendirikan lembaga sertifikasi halal yang secara serius mewajibkan para produsen makanan untuk mensertifikasi halal produk mereka.

Dalam mempromosikan  Halal Tour, negara-negara muslim yang maju tersebut terus membenahi pelayanannya. Mulai dari transportasi yang aman, cepat, mudah, dan terjangkau. Akomodasi berkelas, hingga spot-spot wisata unik dan eksotis yang tetap terjaga dari apa-apa yang diharamkan dalam syariat Islam.
Turki bahkan telah meluncurkan The First Moslem-Friendly Cruise, pada September 2015, yang menyuguhkan acara berlayar menyusuri laut Aegea nan eksotis yang  berbatasan dengan pulau-pulau indah di  Yunani. Menggunakan kapal pesiar  mewah, mereka melengkapi paket wisata halal ini  dengan sajian makanan halal, non-alcohol. makanan bebas unsur babi, no gambling, atraksi-atraksi hiburan yang tidak vulgar, tempat olah raga dan spa yang terpisah antara laki-laki dan perempuan,dan tentunya ruang shalat yang nyaman.

Selama 15 tahun terakhir, Halal Tour  merupakan jenis wisata yang mengalami pertumbuhan paling cepat di Turki. Hal ini mengimbas kepada makin tumbuh pesatnya hotel dan restaurant halal di negara itu, seiring gencarnya badan sertifikasi halal Turki mengadakan berbagai konferensi dan sosialisasi produk halal kepada warga negaranya.

Di lain pihak,  munculnya berbagai agen Wisata Halal kelas dunia juga menciptakan tren baru di dunia per -pariwisataan. Negara-negara non muslim segera menangkap peluang dari tumbuhnya pasar wisatawan muslim ini yang sangat cepat. Sebut saja China, Korea dan yang paling  aktif adalah Jepang.
Jepang secara gencar telah melakukan berbagai sosialisasi tentang syarat-syarat suatu produk makanan, minuman  dan layanan hotel, restauran  dan tempat-tempat publik menjadi Muslim-Friendly (Halal).

Secara serius pemerintah Jepang bersama para pengusaha hotel, restauran dan fasilitas umum lainnya menggelar berbagai workshop yang langsung ditangani oleh  Lembaga Sertifikasi Halal Malaysia bekerjasama dengan sebuah lembaga independen Jepang, Nippon Asia Halal Association  (NAHA). NAHA  bekerja sangat keras untuk mensosialisasikan ” Halal Environment to Muslim in Japan”  Mereka menggandeng  para pengusaha mulai dari perusahaan penerbangan, kereta api , hotel dan restauran  di Jepang untuk menyajikan makanan halal bagi wisatawan Muslim. Bahkan sebuah distrik bernama Okinawa  yang penduduknya terkenal berusia paling panjang di dunia, pemerintah dan masyarakatnya sangat serius belajar tentang Islam dan Muslim agar mereka bisa menyambut para wisatawan muslim dengan baik dan benar.
Gerakan Halal Awareness ini sangat masif. Begitu rapi dan semakin  hari  semakin dikenal luas oleh kalangan pengusaha di Jepang. NAHA,  bersama beberapa organisasi lainnya seperti Halal Japan, Halal Media Japan dan lain-lainnya menggelar Halal Expo Japan setiap tahun dengan didukung oleh seluruh pengusaha yang terkait sektor pariwisata dan telah mendapatkan sertifikasi halal.

Mereka sungguh-sungguh menghargai konsumen muslim yang datang sebagai wisatawan. Sungguh patut ditiru oleh para pengusaha di Indonesia yang jelas menjual produknya kepada konsumen yang mayoritas muslim, di negeri muslim, bukan sekadar wisatawan.

Apa Definisi,  Syarat dan Tujuan Wisata Halal?

Mungkin banyak diantara kita yang masih bingung dengan istilah Wisata Halal. Baiklah saya akan mencoba memperjelasnya,

Pada dasarnya Wisata Halal bisa di definisikan sebagai berikut:
Yaitu paket wisata menuju tujuan-tujuan wisata baik itu wisata alam, landmarks ataupun wahana hiburan, yang tidak merusak aqidah, keyakinan dan aturan dalam Islam. Seperti tidak pergi ke tempat-tempat prostistusi, hiburan malam, club-club dimana lelaki dan perempuan berbaur bebas tanpa aturan dengan busana minim.

Adanya jaminan bahwa makanan dan minuman yang mereka nikmati, sejak  dari naik pesawat, selama berada di tempat wisata, hingga kembali pulang, adalah makanan halal dan atau mendapat jaminan sertifikasi halal dari  badan yang berkompeten. Dalam hal ini di Indonesia, diwakili oleh LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Obat dan Makanan Majelis  Ulama Indonesia).

Indonesia_destinasi_wisata_halal_dunia
Indonesia, Destinasi Wisata Halal Dunia Gambar by Titi Alfa Khairia from pictochart

 

Tujuan wisata halal selain menyegarkan pikiran juga meningkatkan spiritualitas pelakunya, sehingga sepulang dari berwisata mereka mendapatkan kembali semangat hidup,dan  semakin memperkuat rasa syukur dan keimanan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Selain itu juga untuk mendapatkan pengalaman melihat hal-hal baru dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki budaya yang berbeda.

Jadi jelasnya, para muslim dunia yang semakin sadar akan ketaatan dan kembali kepada aturan Islam itu menginginkan perjalanan wisata yang tidak hanya memanjakan mata dan pikiran mereka, tetapi tetap dalam koridor  syar’i sehingga ada perasaan tenang selama  menjalani wisata tersebut serta meninggalkan memori manis yang bisa dikenang seumur hidup.

 

Apa Saja Nilai Plus Wisata Halal di Indonesia?

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, selayaknya memiliki banyak poin  Wisata Halal yang bisa dibanggakan. Apalagi orang Indonesia terbukti sangat aktif dan kreatif. Meski hidup dalam banyak keterbatasan, tak menghalangi geliat inovasi dan kreatifitas orang-orang Indonesia.

Berikut ini beberapa poin yang bisa ditonjolkan dalam Wisata Halal Indonesia

1). Pantai-pantai Yang Eksotis dan Pulau-pulau yang Perawan

Indonesia, negeri seribu pulau. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia memiliki ribuan pulau yang eksotis dengan keunikan masing-masing yang mengundang decak kagum para wisatawan luar negeri. Terutama bagi para Trully Traveller yang hobi keliling dunia. Indonesia, adalah pesona tiada duanya!

Salah satu Astronot NASA berkebangsaan  Jepang, Kimiya Yui (45 Tahun ), yang merupakan tim misi Expedition 44, konon  melihat foto Indonesia dari luar angkasa dan mengunggah foto-foto Indonesia  ”  Photos of Indonesia, a very big and beautiful country,  with  many islands, I want to visit this beautiful country”  kicaunya di sebuah akun media sosialnya, @Astro_Kimiya.
Nah Loh!!, tuh, kan? Ayo kita siap-siap menyambut kedatangan Kimiya dan kawan-kawannya.

Pantai Pink Lombok Gambar dari sini
Pantai Pink Lombok Gambar dari caderabdul.wordpress

2) Aneka Ragam Buah dan Sayuran Tropis

Indonesia sebagai negara tropis, memiliki banyak sumber pangan, buah,sayuran, umbi-umbian dan sumber pangan nabati lain yang tiada duanya. Plasma nutfah Indonesia sangat kaya, mungkin yang terkaya di dunia.
Kalau Jepang hanya memiliki satu jenis teh hijau (maca) dan satu jenis ubi oranye saja begitu gencar mengiklankan keduanya sebagai makanan sehat sedunia, apatah lagi Indonesia yang merupakan sumber aneka ragam pangan nabati yang sehat dan eksotis?

3) Hewan Unik dan Langka yang hanya ada di Indonesia
Di mana orang bisa menemukan komodo, burung cendrawasih, orang utan, tarcisius /kera terkecil di dunia, anoa, dan berbagai hewan langka khas, kalau bukan di Indonesia?

Sayangnya hewan-hewan langka ini banyak yang punah sebagai akibat pembalakan liar hutan-hutan Indonesia yang juga merupakan sumber plasma nutfah penting dunia. Pembakaran hutan untuk tujuan komersil merupakan kejahatan besar, bukan hanya terhadap manusia yang menjadi korban kabut asap yang merenggut banyak nyawa, namun juga punahnya hewan-hewan khas dan langka karena hancurnya habitat hidup mereka.

orangutan_indonesia
Orang Utan Indonesia Gambar dari worldwildlife.org

 

4). Kuliner Khas Daerah Yang Sangat Beragam

Sebagai negara agraris dengan ratusan suku bangsa, Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa. Dari Sabang hingga Merauke, aneka panganan dan jajanan lezat khas daerah membuat rindu para turis mancanegara yang pernah mencicipinya. Akan makin bagus jika makanan tersebut diseleksi agar berada dalam koridor halal dan sehat yang menjadi  standar makanan kelas dunia, terutama bagi muslim.

5). Budaya Tradisional Yang Eksotis

Indonesia mewadahi aneka suku bangsa yang hidup dalam keragaman budaya, adat dan bahasa. Ini tentu sebuah poin yang sangat spektakuler untuk digali. Selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam, sebagai prasarat sebuah paket Wisata Halal.

6) Produsen Busana Muslim Terbesar di Dunia

Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan berbagai daerah lain di Indonesia sangat penuh dengan para pegiat usaha di bidang busana muslim. Seiring meningkatnya kesadaran berbusana muslim yang baik dan benar, hal ini seolah menjadi pendorong banyak warga negara ini untuk berkreasi  dan berproduksi.

Bahkan kota Bandung menjadi jujugan wisatawan Malaysia, Brunei dan Singapura  untuk berbelanja busana muslim yang berkualitas dan  modis, dengan harga  terjangkau.

7)Trend Setter Mode Busana Muslim Dunia

Indonesia Moslem fashion  Week merupakan ajang pamer busana muslim berkelas dunia karya para Designer Busana Muslim Indonesia yang super kreatif. Sebut saja Dian Pelangi, Jenahara, , Ayu Dyah Andari, Hanie Hananto, Ria Miranda, Itang Yunas. Mereka semua mampu menampilkan kesan Indonesia yang stylish dan modern dalam cutting busana muslim yang high ends.

Tak kurang dari beberapa brand busana  Muslim luar negeri pernah ikut nimbrung dalam ajang Indonesia Moslem Fashion Week, sebut saja sebuah brand fashion asal Australia, The Integritiy Boutique, yang ternyata merasa perlu ikut menggelar produknya dalam Indonesia Moslem Fashion Week dalam rangka  memperkenalkan diri pada buyers dari berbagai penjuru dunia.  🙂

Indonesia Moslem Fashion Week, sumber gambar dari sini
Indonesia Moslem Fashion Week Gambar dari dream.co.id

8). Lembaga Sertifikasi Halal di Indonesia menjadi acuan bagi negara Timur Tengah

Sebagai penduduk muslim terbesar dunia dan merupakan pangsa pasar halal terbesar di dunia, Indonesia sebenarnya berpotensi menjadi kiblat bagi Halal Awareness. Hal itu tergantung kepada kesadaran umat Islam Indonesia sendiri. Yang pasti, menurut Emilia Suhaimi, Asisten Deputi Urusan Produktifitas , Kementrian Koperasi dan UKM, negara-negara Timur Tengah sudah mempercayai Indonesia sebagai  kiblat manajemen produk halal.

Wah, bangga banget kan, jadi orang Indonesia?  dengan semua poin-poin di atas, Indonesia sangat layak membranding diri sebagai penyedia Wisata Halal tingkat dunia.

Namun bukan berarti jalan telah mulus untuk meraih impian sebagai salah satu Destinasi Wisata Halal Favorit Dunia.  Masih banyak hal yang merupakan kekurangan yang bisa jadi mencoreng nama baik Indonesia dan membuat para turis, terutama pencari Wisata Halal mengurungkan niatnya, Apa sajakah itu?

Kekurangan Indonesia Sebagai Penyelenggara Wisata Halal Dunia

1). Transportasi ,  Akomodasi dan Telekomunikasi

Begitu banyak spot-spot cantik nan eksotis yang seharusnya bisa dieksplorasi menjadi tujuan Wisata Halal di Indonesia, namun hingga saat ini tak terjamah oleh uluran tangan pemerintah.

Penerbangan ke beberapa pulau nyaris tidak ada, jangankan itu, kapal laut saja datangnya senin-kamis. Padahal banyak pulau-pulau indah terutama di Indonesia Timur yang layak dijadikan ajang wisata baru.

Hotel dan tempat penginapan, banyak yang kondisinya tidak layak dan memprihatinkan, sulit dijangkau dan berbiaya mahal.  Biaya transportasi dan akomodasi yang mahal dengan kualitas kurang memadai tentu tak akan memberikan kesan baik di hati para wisatawan alias bikin kapok.

Homestay Gambar dari info-wisata-pantai.blogspot.co.id
Homestay Milik Penduduk Asli
Gambar dari info-wisata-pantai.blogspot.co.id

 

Kalaupun di sebuah spot wisata pada akhirnya ada hotel, pasti pemiliknya orang asing atau pengusaha kelas kakap, masyarakat lokal tidak memperoleh keuntungan apa-apa pada meriahnya daerahnya sebagai tujuan wisata. Mereka hanya kebagian pekerjaan kecil sebagai pekerja kasar.

Urusan telekomunikasi di daerah terpencil seringkali menjadi masalah. Padahal bagi para pengusaha dan warga dunia yang global, urusan telekomunikasi ini sudah menjadi kebutuhan primer, sekalipun saat mereka sedang berlibur.

2) Masyarakat Kurang Teredukasi Untuk Menyambut dan Melayani Wisatawan Asing

Sebagai penduduk sebuah tempat tujuan wisata tentu sangat diharapkan bila masyarakat memahami arti penting kedatangan para wisatawan ke negara mereka. Kemampuan berbahasa Inggris, pengetahuan tentang layanan penginapan dan penyediaan makanan sehat dan bersih serta halal tentu sangat diharapkan oleh turis yang datang jauh-jauh dari luar negeri.

Sopan santun dan tata krama tanpa merendahkan diri dan martabat bangsa tentu sangat diharapkan dari para penduduk daerah tujuan wisata.
Alangkah bagusnya jika masyarakat suatu daerah wisata diedukasi agar mereka menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri. Merekalah pemilik usaha penunjang pariwisata seperti rumah makan, penginapan, toko kelontong, toko souvenir dan lain-lain.

3) Masalah Kebersihan dan Kerusakan Lingkungan

Akibat kurang terdidiknya masyarakat dalam menjaga kebersihan dan akibat kurang tegasnya  pemerintah menindak para pengusaha yang mengeksploitasi bumi Indonesia tanpa mengindahkan keterjagaan lingkungan, banyak ditemui lingkungan yang kotor dan rusak, sehingga sangat mengecewakan bagi mereka yang datang jauh-jauh untuk berwisata.

Belum lagi gubuk-gubuk liar yang berjajar sepanjang jalan memberi kesan kumuh pada setiap area  wisata yang banyak di datangi pengunjung.

Berita baiknya, sebenarnya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi kreatif sudah memiliki program untuk mengalokasikan dana secara khusus bagi Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia untuk pembangunan sarana dan prasarana pariwisata, revitalisasi dan rehabilitasi kawasan pariwisata. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada link ini.

4). Kemacetan di Kota-kota Besar

Masalah transportasi di kota-kota besar seringkali menimbulkan stress, kelelahan dan penurunan daya produktivitas masyarakat akibat  kemacetan dan waktu tempuh yang lama.

5) Pekerja Sex Komersial dan Warung Remang-remang

Geliat wisata yang menyentuh suatu daerah, tak pelak pasti banyak diikuti dengan banyaknya bermunculan pengusaha warung remang-remang yang biasanya menyediakan miras dan wanita abege penghibur para turis terutama mereka yang tidak memegang nilai-nilai agama.

Kita tidak bisa serta merta menyalahkan masyarakat, karena derasnya aliran rupiah dan dollar yang mengunjungi daerah mereka tentu menimbulkan harapan dan “kreatifitas” bagi penduduk setempat, meski itu tergolong salah. Adanya mereka membangun usaha dan jasa ilegal seperti ini, tak lepas dari sempitnya penghidupan yang harus mereka hadapi. Kurangnya pendidikan dan keterampilan, minimnya iman, membuat mereka menempuh jalan pintas dengan cara-cara yang tidak halal.

 

Maka saya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, seorang Blogger dan pelaku usaha Wisata Halal, ingin memberikan masukan kepada pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementrian Pariwisata  Indonesia, untuk:

  •  Menemukan  Lokasi Wisata Baru,  dari yang selama ini sudah mainstream
    Indonesia penuh potensi Wisata Halal. Pulau-pulau indah, aneka ragam hayati, kuliner tradisional, peninggalan bersejarah, masyarakat muslim, kiblat busana Muslim dunia, masih banyak yang bisa dieksplorasi. Jangan hanya terpaku pada Bali, Lombok dan Jakarta. Lihatlah, masih ribuan pulau cantik menanti untuk dijadikan tempat tujuan wisata baru, kabar baiknya selama pulau tersebut belum terkontaminasi budaya yang tidak benar, maka potensi untuk menjadikannya daerah tujuan Wisata Halal masih besar.Untuk itu pemerintah perlu mendata spot-spot wisata di seluruh penjuru negeri, kemudian merancang pariwisata apa yang bisa dikembangkan di daerah tersebut, berdasarkan potensi daerah masing-masing. Biarlah daerah satu berbeda dengan daerah lain.
    Sehingga setiap spot pariwisata menjadi unik dan khas sesuai daerah tersebut agar tidak  monoton dan membosankan bagi para wisatawan dalam dan luar negeri.
  • Membangun jaringan Transportasi, Akomodasi dan Telekomunikasi yang memadai
    Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Transportasi dan Perhubungan harus bekerja keras, bergandengan dengan pihak swasta untuk membangun jaringan transportasi baik udara maupun laut yang layak. Buat jadwal perjalanan yang teratur dengan harga yang terjangkau sehingga setiap orang mudah untuk bepergian ke berbagai destinasi wisata baru. Untuk akomodasi dan penginapan, saya lebih menganjurkan untuk diserahkan kepada putera asli daerah, dan lebih baik kepada penduduk lokal yang dibina oleh pemerintah, sehingga mereka bisa menyediakan homestay-homestay sederhana yang bersih dan memadai, ketimbang harus selalu menyerahkannya kepada investor kelas kakap dalam bentuk hotel-hotel mahal yang membuat penduduk gigit jari.
    Hotel mahal juga bisa menjadi alasan turis menjauh karena harganya akan semakin tak terjangkau.Alangkah lebih baiknya jika petualangan ke pulau-pulau eksotis dinikmati dalam nuansa se-natural mungkin dengan tinggal di rumah-rumah kayu yang bersih dengan fasilitas memadai seperti tersedianya air bersih, makanan sehat alami dan halal hasil olahan penduduk setempat. Untuk hal ini, tentu ada banyak usaha dari pemerintah untuk mengedukasi masyarakat bagaimana agar mereka bisa menyulap bahan pangan lokal yang tersedia menjadi beragam  makanan sehat-halal yang layak disajikan pada para wisatawan.
  • Mendidik Masyarakat Agar Mampu Menangkap Peluang Usaha dengan Cara Yang Terhormat
    Tak sedikit cerita masyarakat di mana daerahnya menjadi tujuan wisata, anak-anak abegenya bekerja sebagai cabe-cabean alais penghibur bule kelas kere.
    Meski lebih banyak pula masyarakat yang berusaha di bidang yang legal seperti menjual souvenir dan hasil bumi setempat. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa geliat wisata di setiap daerah di Indonesia masih lebih banyak menguntungkan para pengusaha kelas kakap dan investor asing, dan hanya menyisakan remah-remah bagi penduduk pribumi dan lokal. Hal ini tentu tidak boleh terjadi apabila Indonesia ingin menjadi penyelenggara / tujuan Wisata Halal. Karena yang dimaksud Wisata Halal tentu bukan hanya paket yang ditawarkan bebas alkohol dan hal-hal haram, namun  juga harus memberi manfaat bagi penduduk setempat dan mengentas mereka dari kemiskinan.
    Didiklah dan berikan masyarakat setempat modal dan bimbingan untuk memulai usaha sebagai pelengkap spot wisata di daerahnya. Misalnya,  masyarakatlah yang membuka penginapan-penginapan dan homestay sederhana yang bersih dan terjangkau. Tentunya keimanan dan pengetahun masyarakat juga harus di asah agar mereka naik kelas menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bukan pelayan, apalagi pekerja sex komesial. No Way ! 

    4.Memperbanyak Wisata Alam dan Agronomi

  •  Sebagai negara kepulauan yang penduduknya hidup dari pertanian, maka wisata alam dan agronomi semestinya menjadi kekuatan pariwisata Indonesia. Jenis wisata alam ini tidak pernah membosankan dan akan selalu menarik untuk dikunjungi. Hal ini sangat berbeda dengan wisata wahana yang banyak menyajikan pemandangan artifisial yang membosankan.
    Contohnya Thailand, negara sebelah yang sangat aktif meningkatkan kualitas produksi pertaniannya, sehingga menjadi kiblat wisata agronomi di wilayah Asia Tenggara. Indonesia yang wilayahnya lebih luas, penduduknya lebih banyak, dan plasma nutfah-nya lebih beragam, , semestinya bisa menjadi lebih baik dari Thailand. Semangat ! 

    Potensi Wisata Halal di Wilayah Pantai Utara Pulau Jawa

Pantura atau pantai utara pulau Jawa adalah kawasan yang meliputi Banyuwangi hingga ke Banten. Di jalur inilah konon dalam sejarahnya merupakan wilayah yang paling aktif menerima pendatang baik dari China, India, Arab, Portugis hingga Belanda. Baik untuk tujuan perdagangan, pertukaran ilmu hingga politik.

Dalam sejarah masuknya Islam di Indonesia, setelah Islam pertama kali datang ke Indonesia melalui Aceh yang dibawa oleh para pedagang Arab dan India, kawasan Pantura atau Pantai Utara juga memegang peranan penting dalam menerima para pendakwah muslim yang pada akhirnya menjadikan daerah Pantura adalah basis Islam di pulau Jawa.

Sebuah kuil China di semarang, yakni Klenteng Gedung Batu Sam Phoo Kong,  diyakini  sebagai peninggalan  Laksamana Zeng He atau Cheng Ho, yang merupakan Laksamana Muslim dari dinasti Ming di  Tiongkok abad ke 14, yang melakukan lawatan ke negara-negara di kawasan Asia dan Afrika pada masa itu.

Pada akhir kekuasaan kerajaan Majapahit, akibat vakumnya pemerintahan, karena Raja sudah kehilangan kekuatannya untuk memerintah , banyaknya pemberontakan dari kerajaan-kerajaan kecil dibawah kekuasaannya, dan perebutan kekuasaan dalam tubuh keluarga besar kerajaan, datanglah rombongan utusan dari Samudera Pasai. Keluarga kerajaan Muslim mengirimkan puteranya, Raden Rahmat, untuk membantu bibinya yang adalah permaisuri Prabu Brawijaya , salah satu Raja terakhir kerajaan Majapahit.

Setelah berhasil menguatkan semangat para prajurit Majapahit, dan mengajarkan kebaikan yang diambil dari nilai-nilai Islam, Raden Rahmat mendapatkan hadiah sebuah tanah di wilayah Ampel Denta. Sejak saat itulah perkembangan Islam dipulau Jawa dimulai dan semakin hari semakin mengalami kemajuan pesat di sepanjang pesisir pulau Jawa. Sehingga kita mengenal adanya sembilan wali atau  Wali Songo.

Karena itulah tipikal masyarakat pesisir atau penduduk pantai utara pulau jawa, adalah tipikal masyarakat muslim yang taat.  Karena mereka terkait erat dengan sejarah masuknya Islam di pulau Jawa.

Dari pengamatan penulis, hampir sebagain besar masyarakat pantai di banyak pulau di Indonesia adalah masyarakat Islam yang cukup kuat. Ini tentu tak lepas dari sejarah masuknya Islam lewat jalur dakwah dan perdagangan  melalui wilayah pesisir atau pantai. Sebut saja wilayah Aceh, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Fak-fak (Papua), Ambon, Nusa Tenggara Barat, Madura, Pantura Jawa, dan lain-lain.

Karena itu, apabila Kementrian Pariwisata  ingin mengembangkan Wisata Halal di Kawasan pantai, maka bukan hanya Lombok yang bisa dijadikan destinasi Wisata Halal.

Sebagian besar garis pantai di wilayah Indonesia berpotensi menjadi spot Wisata Pantai Halal, karena penduduknya yang banyak memeluk agama Islam.

Pendekatan sosial dan perencanaan wisata tentunya harus disesuaikan dengan kearifan lokal yang telah mengakar di wilayah setempat. Tentu tak lupa memberikan sentuhan modern karena hal itu sudah menjadi kebutuhan masyarakat global saat ini.

Studi Kasus, Di Wilayah Pantai Tanjung Kodok, Lamongan

Wilayah Tanjung Kodok Lamongan adalah wilayah pantai yang dihuni masyarakat muslim sejak jaman Sunan Drajat. Dulunya pusat dakwah Islam Sunan Drajat (salah satu Wali Songo) ada di dusun Drajat yang letaknya agak ke atas bukit.

Wilayah ini sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan kawasan wisata alam hutan dan kebun buah yang sesuai dengan kondisi tanah setempat. Selain itu ada peninggalan bersejarah berupa makam Sunan Drajat dan Masjid Agung Sendang Dhuwur yang berarsitek Hindu kuno.

Sentra produksi batik dan pembuatan perhiasan emas di desa Sendang Dhuwur juga merupakan salah satu daya tarik wisata yang bisa dikembangkan. Yang dibutuhkan saat ini adalah pengembangan wisata agronomi agar hutan tak habis dibabat sebagai rumah penduduk dan ladang pertanian yang sebenarnya kurang menguntungkan secara ekonomis.

My beautiful Indonesia #Indonesia #beautiful #green #palm #coconut #farm #nature #quiet #peaceful #2016

A post shared by Titi Alfa Khairia (@titi_alfa_khairia) on

 

Alangkah baiknya bila hutan ditanami kembali dengan pohon-pohon kayu yang dibutuhkan masyarakat dan juga buah-buahan langka yang bernilai ekonomis.

Selain itu, wisata pantai juga bisa ditambah dengan wilayah pantai baru untuk berperahu, berenang, snorkeling dan diving berbeda area dengan kawasan Wisata Bahari Lamongan. Kalau perlu area berenang bisa dipisah antara area laki-laki dan perempuan. Dan jangan lupa petugas Life Guard yang mumpuni.

Tanjung Kodok, Paciran Laomngan. Gambar dari travel.detik.com
Tanjung Kodok, Paciran Lamongan.
Gambar dari travel.detik.com

Unuk makanan khas, alangkah baiknya adalah makanan alami yang sehat yang diambil dari kekayaan alam setempat. Selama ini sudah ada ikan bakar, kepiting, dawet ental, air legen, gula nirah dan lain-lain. Ke depannya untuk buah-buahan khas lokal musti diperbanyak agar masyarakat Indonesia lebih sehat.

Pendirian villa,  home stay yang terjangkau dan legal juga masih berpeluang besar. Lebih bagus jika menggandeng kontraktor lokal, agar memberi peluang usaha bagi penduduk setempat.

 

Demikian, sekelumit pandangan, pendapat dan usulan penulis. Semua itu kami lakukan karena kepedulian dan kecintaan kami terhadap Indonesia, serta keinginan kami agar masyarakat Muslim Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dengan terlibat langsung dalam peluang menjadikan Indonesia sebagai tujuan Wisata Halal Dunia. Semoga.