Sertifikasi Halal, Apa, Mengapa dan Bagaimana Prosesnya ?

Sebagai Muslim dan konsumen dari banyak produk makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan , maupun sebagai produsen itu sendiri. Sebaiknya kita memahami  apa itu Sertifikasi Halal? seberapa pentingnya ia dan bagaimana proses memperolehnya.

Dengan perkembangan teknologi pengolahan pangan yang demikian pesat, terjadi banyak pergeseran struktur makanan, terutama skala industri. Jika dulu orang tua kita sudah puas dengan mengkonsumsi makanan yang bersumber langsung dari alam dan diproses dengan sangat sederhana, tidak demikian halnya dengan kita sekarang.

Makanan yang kita konsumsi umumnya dibuat dari bahan-bahan yang sudah mengalami rangkaian proses di pabrik, lalu bahan-bahan itu akan diolah kembali dengan proses yang lumayan rumit pula. Sehingga banyak parameter yang ditinjau untuk mengatakan bahwa suatu produk itu masih halal atau sudah berubah menjadi subhat atau justeru haram.

Logo MUI bagi produk yang sudah mendapatkan Sertifikasi Halal MUI, sumber dari SINI
Logo MUI bagi produk yang sudah mendapatkan Sertifikasi Halal MUI, sumber dari  www.halalmui.org

 

APA itu  SERTIFIKASI HALAL 

Menurut website resmi LPPOM MUI Indonesia, SERTIFIKASI HALAL  adalah Fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syariat Islam. Sertifikasi Halal merupakan syarat untuk mendapatkan ijin mencantumkan  LABEL HALAL pada kemasan suatu produk  dari instansi yang berwenang.

TUJUAN SERTIFIKASI HALAL

Sertifikasi Halal MUI pada produk-produk MAKANAN, MINUMAN , kosmetika dan obat-obatan dilakukan untuk MEMBERI KEPASTIAN STATUS KEHALALAN suatu produk, sehingga memberikan KETENTERAMAN  batin bagi konsumen yang mengkonsumsinya. Kesinambungan status kehalalan suatu produk diberikan oleh produsen dengan menerapkan SISTEM JAMINAN HALAL.

 

PROSEDUR UNTUK MEMPEROLEH SERTIFIKASI HALAL MUI

Bagi perusahaan yang ingin memperoleh Serifikasi Halal, MUI, baik industri pengolahan pangan (makanan, minuman, obat, kosmetika) maupun rumah potong hewan (RPH) dan restoran, katering/dapur harus melakukan pendaftaran Sertifikasi Halal, dan memenuhi persyaratan sertifikasi Halal.

Berikut ini Tahapan Yang Harus Dilalui Produsen yang akan mendaftar untuk mendapat sertifikasi halal :

  1. Memahami persyaratan Sertifikasi Halal dan mengikuti pelatihan Sertifikasi Halal
  2. Menerapkan Sistem Jaminan Halal
  3. Menyiapkan dokumen Sertifikasi Halal
  4. Melakukan Pendaftaran Sertifikasi Halal (upload data)
  5. Melakukan Monitoring Pre Audit dan Membayar Akad Sertifikasi
  6. Melaksanakan Audit
  7. Melakukan Monitoring Pasca Audit

Memperoleh Sertifikasi Halal

PERSYARATAN SERTIFIKASI HALAL MUI

HAS 23000 adalah dokumen yang berisi Persyaratan Sertifikasi Halal MUI.
HAS 23000 terdiri dari 2 bagian, yakni

Bagian I yakni tentang Persyaratan Sertifikasi Halal, Kriteria Sistem Jaminan Halal (HAS 23000:1)

Bagian II yakni tentang Persyaratan Sertifikasi Halal , Kebijakan dan Prosedur (HAS 23000 :2)

Berikut adalah RINGKASAN HAS 23000

  1. Kebijakan Halal
    Manajemen Puncak harus menetapkan Kebijakan Halal dan mensosialisasikan Kebijakan Halal kepada seluruh pemangku kepentingan (stake  holder) perusahaan.
  2. Tim Manajemen Halal
    Manajemen Puncak harus menetapkan Tim Manajemen Halal yang mencakup semua bagian  yang terlibat adalam aktifitas kritis , serta memiliki tugas, tanggung jawab dan wewenang yang jelas.
  3. Pelatihan dan Edukasi
    Perusahaan harus punya prosedur tertulis tentang pelaksanaan pelatihan. Pelatihan internal harus dilaksanakan minimal setahun sekali dan pelatihan eksternal harus dilakukan minimal dua tahun sekali.
  4. Bahan
    Bahan yang digunakan dalam produk yang disertifikasi tidak boleh berasal dari bahan yang haram atau najis. Perusahaan harus mempunyai dokumen yang mendukung semua bahan yang digunakan , kecuali bahan tidak kritis atau bahan yang dibeli secara retail
  5. Produk
    Karakteristik/ profil sensori suatu produk tidak boleh memiliki kecenderungan bau atau rasa yang mengarah pada produk yang haram, atau yang telah dinyatakan haram berdasar fatwa MUI. Merek atau nama produk yang didaftarkan tidak boleh mengandung nama sesuatu yang diharamkan atau ibadah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Produk pangan eceran (retail ) dengan merek yang sama yang beredar di Indonesia harus didaftarkan seluruhnya untuk sertifikasi. Tidak boleh didaftarkan sebagian saja.
  6. Fasilitas Produksi
    a.Industri Pengolahan
    (i)Fasilitas produksi harus menjamin tidak terjadinya kontaminasi silang dengan bahan haram/najis.
    (ii) Fasilitas Produksi  bisa/boleh  digunakan secara bergantian  untuk menghasilkan produk yang disertifikasi dan yang tidak disertifikasi, selama tidak mengandung bahan yang berasal dari babi atau turunannya, namun harus prosedur yang menjamin bahwa tidak akan  terjadi kontaminasi silang.
    b. Restoran/Dapur/Katering
    (i) Dapur harus digunakan khusus untuk memproduksi bahan halal
    (ii) Fasilitas dan peralatan  penyajian hanya dikhususkan untuk menyajikan produk yang halal.
    c.Rumah Potong Hewan (RPH)
    (i) Fasilitas RPH hanya khusus untuk pemotongan hewan yang halal.
    (ii) Lokasi RPH harus terpisah secara nyata dari RPH peternakan babi
    (iii) Jika proses deboning dilakukan di luar RPH, maka harus dipastikan bahwa karkas hanya berasal dari RPH halal.
    (iv) Alat penyembelih harus memenuhi persyaratan.
  7. Prosedur Tertulis Aktifitas Kritis
    Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis mengenai pelaksanaan aktivitas kritis, yakni aktivitas pada rantai produksi yang bisa mempengaruhi kehalalan suatu produk. Aktivitas kritis mencakup, penyeleksian bahan baru, pembelian bahan, pemeriksaan bahan datang, formulasi produk, produksi, pencucian fasilitas produksi, dan peralatan pembantu, penyimpanan dan penanganan bahan dan produk, transportasi, display, aturan pengunjung, penentuan menu, pemingsanan, penyembelihan, disesuaikan dengan proses bisnis perusahaan (industri pengolahan, RPH, restoran, katering / dapur). Prosedur tertulis  tertulis dari aktivitas kritis dapat dibuat terintegrasi dengan prosedur sistem lainnya.
  8. Kemampuan  Telusur (Traceability)
    Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis untuk memenuhi kemampuan telusur produk yang disertifikasi berasal dari bahan yang memenuhi kriteria (disetujui LPPOM MUI) dan diproduksi di fasilitas produksi yang memenuhi kriteria (bebas dari babi dan bahan turunannya).
  9. Penanganan Produk Yang Tidak Memenuhi Kriteria
    Perusahaan harus punya prosedur tertulis untuk menangani produk yang tidak memenuhi kriteria, yaitu tidak dijual kepada konsumen yang mensyaratkan kehalalan suatu produk (Muslim), atau jika terlanjur dijual, maka harus ditarik.
  10. Audit Internal
    Perusahaan harus punya prosedur tertulis audit internal Sistem Jaminan Halal. Audit internal dilaksanakan setidaknya 6 bulan sekali oleh Auditor Halal internal yang kompeten dan independen. Hasil laporan internal disampaikan kepada LPPOM MUI dalam bentuk laporan berkala setiap 6 bulan sekali.
  11.  Kaji Ulang Manajemen
    Manajemen Puncak atau wakilnya harus melakukan kaji ulang manajemen minimal satu kali dalam setahun. Tujuannya untuk menilai efektifitas penerapan Sistem Jaminan Halal dan merumuskan perbaikan berkelanjutan.2. KEBIJAKAN DAN PROSEDUR SERTIFIKASI HALAL
    Kebijakan dan prosedur harus dilaksanakan oleh perusahaan yang mengajukan sertifikasi halal. Penjelasan mengenai kriteria sistem jaminan halal (SJH), dapat dilihat pada dokumen HAS 23000 : 2 . Persyaratan Sertifikasi Halal: Kebijakan dan prosedur.Berikut  Proses Sertifikasi Halal dalam bentuk diagram alir

    Flow Chart Proses Sertifikasi Halal, sumber dari SINI
    Flow Chart Proses Sertifikasi Halal, sumber dari  www.halalmui.org

     

      Catatan :          

    ·     Mulai Bulan Juli 2012, pendaftaran Sertifikasi Halal hanya bisa dilakukan secara online melalui website LPPOMMUI.

    ·     Bagi perusahaan yang menginginkan penjelasan detail mengenai persyaratan sertifikasi halal LPPOM MUI (Kebijakan, Prosedur, dan Kriteria) dapat memesan Buku HAS 23000 melalui email:  ga_lppommui@halalmui.org

 

Satu pemikiran pada “Sertifikasi Halal, Apa, Mengapa dan Bagaimana Prosesnya ?

  1. Ping-balik: Wisata Halal Paling Tepat Dikembangkan di Indonesia – Healthy Halal Lifestyle

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s