Sebagai negara maju yang sangat memperhatikan kualitas makanan bagi penduduknya, Jepang dikenal sebagai gudangnya makanan sehat. Semua makanan yang tersaji di restoran-restoran Jepang dipastikan berasal dari sumber yang sehat dan berkualitas serta  disajikan secara sehat pula.

Sebut saja Sushi, Soba, Takoyaki, Sashimi, Shabu-shabu, Yakiniku, Udon, dan lain-lainnya. Bahan yang digunakan selalu dipilih yang berkualitas. Umumnya masyarakat Jepang menyukai hidangan yang berasal dari laut atau berbahan dasar ikan. Tak pelak lagi, makanan Jepang dikenal sebagai salah satu sumber makanan sehat.

Akan tetapi makanan sehat belum tentu Halal. Secara tradisional Jepang memiliki minuman keras yang disebut Shake. Selain itu ada sejenis bumbu yang selalu digunakan dalam berbagai masakan Jepang yang disebut Mirin.

Menurut Wikipedia, Mirin adalah bumbu dapur yang berasal dari minuman beralkohol berwarna kuning dan berasa manis. Kandungan Mirin adalah gula sebanyak 40-50% dan alkohol 14 %.  Mirin berfungsi menghilangkan bau amis dan membuat makanan tidak mudah hancur dalam prosesnya. Mirin digunakan dalam makanan yang dimasak dengan cara nimono atau merebus dengan kecap asin dan dashi, dan campuran untuk berbagai macam saus seperti saus kabayaki (tare), saus untuk soba (soba-tsuyu), saus untuk tempura (tentsuyu) dan saus teriyaki.

Hal inilah yang membuat penikmat masakan Jepang dari kalangan Muslim, merasa keberatan. Sehingga banyak yang menahan diri untuk tidak menikmati masakan Jepang yang dikenal sehat itu. Berdasar hal tersebut, Pemerintah Jepang yang sedang giat menyambut para wisatawan Muslim yang melancong ke Negeri Para Samurai tersebut, menggalakkan sosialisasi sertifikasi halal bagi beberapa restoran. Terutama di lingkungan bandara dan pusat-pusat wisata.

Mushala Di Airport
New Kanshai, Osaka Japan International  Airport sebagai bandara utama yang menyambut wisatawan Muslim dari Asia seperti Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah, telah menyediakan sebuah tempat shalat (Prayer Room) yang sangat representatif dan nyaman bagi pengunjung Muslim.

Terletak di lantai 3 Bandara New Kanshai, seperti dilansir NHK World, sejak bulan Pebruari 2015, bandara ini telah resmi membuka layanan umum bagi wisatawan Muslim. Ruangan shalat atau Prayer Room, memisahkan pengunjung lelaki dan perempuan, bahkan menyediakan tempat wudhu yang terpisah dari toilet. Tanda kiblat juga dipasang di langit-langit ruang shalat.

Sebelumnya Narita Airport telah terlebih dulu menyambut wisatawan Muslim dengan memberikan fasilitas Mushala, Restoran Halal dan toko snack serba halal sejak tahun 2014.

Prayer Room Osaka Airport foto dari SINI
Prayer Room, New Kanshai  Osaka Airport foto dari halalnavi.com

 

Prayers Romm Narita Airport, Gambar dari SINI
Prayers Room Narita Airport, Gambar dari FP Facebook NAHA

Restoran Halal
Nippon Asia Halal Association  (NAHA) sebagai lembaga yang peduli dengan hak-hak Muslim di Jepang, telah sangat aktif mensosialisasikan standar kehidupan Halal kepada Pemerintah dan para pegiat bisnis di Jepang.

Selain Mushala  pemerintah Jepang juga bekerjasama dengan pengelola restoran untuk menyediakan restoran bersertifikasi halal di Bandara. Ada juga toko oleh-oleh yang menyediakan camilan Halal. MAKANAN HALAL di restoran ini  memiliki dapur dan peralatan makan yang terpisah dari  MAKANAN untuk umum.

Sertifikat Halal Restoran di Bandara Narita jepang, foto dari SINI
Sertifikat Halal Restoran di Bandara Narita jepang, foto dari FP Facebook NAHA

halal-restaurant-narita-japan

Toko oleh-oleh Halal , gambar dari SINI
Toko oleh-oleh Halal , gambar dari FP Facebook NAHA

Hotel Halal

Pada tanggal  3 Juli 2013,  NAHA  bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian Halal  Malaysia mengadakan seminar tentang pentingnya menyediakan fasilitas Restoran dan Hotel Halal bagi wisatawan Muslim. Acara ini dihadiri oleh para pengusaha hotel, restoran dan produsen makanan di Jepang.

Sebagai narasumber adalah Saeed Akhtar Ph D dari Nippon Asia Halal Association (NAHA) , yang mengenalkan konsep Halal bersumber dari Al Quran dan Hadist. Yuhaini Yusof, Direktur pengembangan industri, Pusat Pariwisata Islam, Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia. Mian N Riaz dari Ifanca, USA , dan Hotel Beds, TUI Travel dari perwakilan Association Halal Business Japan.

Acara berlangsung di Hotel Spings  yang merupakan salah satu hotel bersertifikasi halal atau Muslim Friendly. pada hotel-hotel Halal ini mereka menyediakan dapur terpisah untuk memproduksi makanan bagi tamu muslim. Meskipun para manajer dan staff hotel bukan beragama Islam, tetapi mereka berkeinginan kuat untuk menyediakan fasilitas yang sebaik-baiknya  bagi tamu-tamu  Muslim. Melalui bimbingan NAHA dan Lembaga Sertifikasi Halal Malaysia, para pengusaha itu tekun mempelajari tata cara memberikan layanan Halal bagi wisatawan Muslim terutama dari Indonesia, Malaysia dan Timur Tengah. Dan seperti tradisi sebuah negara maju, para pengusaha itu sangat mentaati aturan yang ditetapkan NAHA dan Lembaga Pengkajian Halal Malaysia sebagai bentuk penghormatan pada para tamu Muslim yang menjadi target wisata mereka. Acara ini menjadi semacam acara Tahunan bagi para pengusaha Hotel dan Restoran di Jepang.

Seminar Halal di Hotel Springs, gambar dari SINI
Seminar Halal di Hotel Springs, gambar dari SINI

Sungguh patut kita acungi jempol para pengusaha di Jepang ini yang notabene bukan negara Muslim tapi sangat menghargai konsumen Muslim mereka. Go Japan, Go Halal.