Ah siapa sih yang tak terpukau oleh Raja Ampat. Keindahannya yang sudah tersebar di seantero jagad benar-benar memukau mata. Lewat foto-foto gugusan kepulauan seperti gunung-gunung kecil yang berderetan di tengah laut, menghadirkan suasana misterius yang membuat siapapun penasaran ingin ke sana.

Peta Raja Ampat sumber : diverajaampat.thearenui.com
Peta Raja Ampat sumber

Apalagi dikabarkan bahwa sejumlah 603 jenis terumbu karang keras atau 75 % jenis terumbu karang dunia terdapat di Raja Ampat. Dengan suhu perairan yang berkisar anatara 22-30 derajat Celcius, membuat perairan Raja Ampat menjadi tempat yang hangat untuk tempat tinggal dari ribuan species ikan. Dari penelitian yang dilakukan oleh International Conservation dan Nature Conservacy, tercatat ada 1.397  species ikan ditemukan di sini.Pantaslah bila Raja Ampat dijuluki sebagai “ibukota kota dunia ikan”.

Selain ikan, di perairan Raja Ampat juga ditemukan 60 jenis udang karang, 699 jenis hewan lunak (Molusca), yang terdiri dari 530 siput-siputan (Gastropoda), 159  jenis kerang-kerangan (Bivalva), 53 jenis cumi-cumian (Cephalopoda), 2 jenis Scaphopoda dan 3 jenis Chiton. Pantaslah jika Raja Ampat dinobatkan sebagai surga tujuan para penyelam dan penikmat olah raga Scuba Diving.

 

Gimana ngga mupeng coba. Ngebayangin diri ini bermain di jernihnya air di perairan laut Raja Ampat, atau berperahu dan snorkeling lantas digerumuti ikan-ikan lucu aneka bentuk dan warna. Ah..surgaaa.

Belum lagi pulau-pulau eksotis yang muncul di tengah lautan itu, berderet-deret membentuk lingkaran cincin yang kalau dilihat dari udara nampak demikian misterius . Ah… Raja Ampat, engkau membuat decak kagum siapapaun yang memandangmu sekaligus bermimpi,kapan aku menjejakkan kaki di bumi Papua, di perairan dan gugusan pulau Raja Ampat?

 

Bayangan akan keindahan Raja Ampat sekaligus menciutkan nyaliku karena seringnya terdengar berita bahwa biaya perjalanan menuju Raja Ampat lebih mahal daripada biaya jalan-jalan ke Beijing, Singapura, Maaysia, atau ke negara-negara antero Asia. Aduh… apa benar?

Sebulan yang lalu seorang fotografer asal Lisboa, Portugis menanyakan di sebuah grup fotografi tentang spot-spot menarik di Indonesia yang tidak biasa dikunjungi wisatawan, rencananya dia akan pergi ke kepulauan Mentawai dan Papua Barat. Akupun sibuk Googling mencarikan informasi untuk dia. Di Papua barat, aku  bertemu website Pemda Papua Barat yang menjadikan Raja Ampat sebagai primadona wisata.

Akupun mencari-cari website para traveller yang sudah pernah jalan ke Raja Ampat. Dari sana aku dibuat tercengang, ternyata Indonesia memang kaya luar biasa. Tak heran orang-orang barat penasaran dan ingin mengunjinginya.

Ada satu blog dari penikmat Travelling yang memunculkan harapanku. Ya bahwa pergi ke Papua, tepatnya Raja Ampat memang cukup mahal, karena transportasi di sana yang tergolong  susah akibat mahalnya harga BBM di bumi yang perutnya kaya raya itu, namun masih bisa dijangkau jika kita bepergian dalam rombongan dan mengatur rencana perjalanan  sendiri.

Jadi apa kira-kira yang akn kulakukan bila aku berkesempatan mengunjingi Raja Ampat?

Mencari Homestay Murah

Di sebuah pulau bernama pulau Gam ada sebuah homestay yang disewakan dengan harga cukup murah, jadi kita ngga harus tidur di hotel yang mahal. Tambahan lagi, suasananya serasa memiliki pulau sendiri, asyik kan?  Kita bisa seharian bengong di dermaga memandangi matahari pagi, memancing ikan, atau menunggu matahari terbenam di sana.

Snorkeling 

Ya itulah pilihanku untuk mengintip keindahan bawah laut Raja Ampat yang mencengankan, berhubung aku ngga bisa menyelam alias Scuba Diving. Menurut blog yang aku baca, kita bisa menyewa alat-alat snorkeling di desa Sawingrai. Harga sewanya 50 ribu rupiah perhari. Cukup murah.

Berperahu 

Ya, dengan perahu kecil atau kayak, kita bisa berkeliling di perairan Raja ampat yang dikelilingi gugusan pulau-pulau eksotis. Sembari memandangi biota laut yang terpampang jelas di jernihnya iar hijau tosca yang pasti membuat kita terkagum-kagum akan ciptaan Yang Maha Kuasa.

 

Mendaki Pianemo, The Little  Wayag

Julukan the Little Wayag diberikan pada  Pianemo karena dari pulau tersebut, kita bisa melihat gugusan pulau yang dipisahkan oleh laut hijau tosca seperti di  pulau Wayag. Setiap turis yang datang dikenai biaya sebesar 100 ribu rupiah dan akan diantar seorang guide untuk menjelajah pulau tersebut. Pada pendakian pulau pertama dari pos, akan terlihat gugusan pulau yang formasinya seperti bintang, sehingga disebut pulau Telaga Bintang. Pada pendakian pulau kedua, kita bisa dibuat takjub pada deretan pulau yang benar-benar indah,yang menyadarkan kita bahwa kita benar-benar sedang di Raja Ampat nan eksotis.

 

raja ampat
Kepulauan wayag Raja Ampat sumber : Google

 

Mencari Cindera Mata di Desa Arborek

Desa ini memiliki pantai berpasir putih yang indah dan banyak ditemukan homestay juga di sana. Desa Arborek juga dikenal memiliki ciri khas yakni dijualnya cindera mata tradisional, tas kulit kayu buatan para Mama di daerah tersebut. Harganya berkisar 100 ribuan.

 

Bird Watching di Pulau Saporkren

Bukit Yenpapir di pulau Saporkren  merupakan bukit di mana masih ditemukan species burung Cendrawasih. Kita bisa menikmati Bird Wachting di Saporkren, dibantu  seorang guide yang merupakan penguasa daerah tersebut . setiap orang dikenakan biaya 100 ribu rupiah.

Mengenali Budaya Masyarakat Papua

Budaya masyarakat Papua masih sangat kuat. Masyarakat Papua terdiri dari  248  suku adat yang masih mempertahankan banyak tradisi mereka. Sebagai masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari laut dan mengolah hasil laut, suku-suku di papua banyak yang hidup nomaden alias berpindah-pindah. Masyarakat Papua terdiri dari masyarakat yang memiliki kepercayaan yang beragam. Data tahun 2006 menunjukkan, 50, 7 % penduduk Papua memeluk Kristen Protestan, 41,27 % memeluk Islam, 7,70 % memeluk Katholik,0,12 %Hindu, 0,08% Budha dan 0,01% Konghuchu. Namun demikian masyarakat Papua hidup rukun dan saling menghormati.

Pada setiap satu tahun sekali diadakan festival Danau Sentani yang bertujuan mempersatukan masyarakat Papua dalam berbagai pagelaran seni dan budaya seperti tarian, pakaian adat dan makanan khas daerah. Dalam festival yang menjadi agenda wisata tahunan untuk turis lokal maupun internasional itu, seluruh kelompok yang mewakili berbagai kepentingan masyarakat adat turut mengambil bagian.

Sebagai masyarakat yang berwal dari kepercayaan animisme, tariam merupakan bagian dari ritual penting penduduk Papua, beberapa tarian yang terkenal yaitu, tarian yang digunakan untuk mengawali peperangan dan tarian yang digunakan untuk pergaulan.

Tari perang yang terkenal adalah tari Velabhea. Tarian perang ini dikenal di kalangan masyarakat adat yang mendiami daerah sekitar danau Senntani. Tarian perang ini merupakan tarian kolosal yang ditarikan oleh tak terbatas orang. Karena dimaksudkan untuk mengobarkan semangat berperang, tarian ini juga diiringi gendang dan tifa yang ditabuh dengan rancak dan diiringi jeritan tertentu yang diyakini mampu mengobarkan semangat. Tak lupa pakaian mereka dihiasi manik-manik, daun-daunan maupun bulu burung cendrawasih. Pada perkembangan masa kini, tarian ini sudah dilarang karena dikhawatirkan akan memicu banyak bentrokan antar suku. Sebagai gantinya tarian ini ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu.

Tarian Perang papua, sumber: Google
Tarian Perang papua, sumber: Google

Sementara tarian pergaulan yang disukai yaitu Tari Yosim  Pancar atau Tari Yospan yang mengisahkan pergaulan muda-mudi. Tarian ini biasanya ditarikan oleh dua regu. Satu regu penari dan satu regu musisi. Tari Yosim Pancar ini hampir serupa dansa a-la barat yang dipopulerkan masyarakat yang mendiami sekitar sungai Memberamo. Pada tarian Yosim Pancar semua penari memakai kostum yang berbeda-beda tergantung grupnya. Akan tetapi hampir semua pakaian adat Papua memiliki ciri khas yaitu aksesori manik-manik atau bulu burung. Gerakan yang dikenal dalam tarian Yospan ini adalah Gale-gale, Jef, Pacul tiga, Seka dan lain-lain.

Tarian Yospen, sumber Google
Tarian Yospen, sumber Google

 Balai Pelestarian Nilai  Budaya Masyarakat Papua.

Menurut hasil kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Masyarakat Papua, masyarakat Papua selain menggantungkan hidup dari hasil laut, ada juga yang hidup dari berburu, berkebun,meramu , dan menangkap hasil ikan dan udang di sungai.

Hal ini tidak mungkin dihilangkan dan dicabut dari keseharian masyarakat Papua. Menghilangkan berarti mencabut akar budaya mereka yang membuat mereka kehilangan jati diri. pengenalan budaya dan kehidupan modern hendaklah dilakukan secara perlahan sesuai daya terima  mereka terhadap kemajuan. Seperti penggunaan koteka yang dulu merupakan pakaiankhas pria Papua, sekarang sudah dilarang dikenakan di depan umum dan mereka diajarkan memakai pakaian yang lebih tertutup.

Menikmati Raja Ampat dengan semua eksotisme alamnya , tentu tak lengkap tanpa memahami budaya dan kearifan lokal masyarakat yang mendiaminya. Karena dengan mengenali budayadan kearifan lokal masyarakat setempat, para penikmat wisata mampu bersikap menghargai pada penduduk disekitarnya, dan lebih berhati-hati menjaga kelestarian alamnya.

Artikel ini diikutkan dalam blogging kontest, Wonderful Indonesia yang diadakan oleh indonesia-travel.

Referensi:

  1.  http://papuabaratprov.go.id/
  2.  http://diverajaampat.thearenui.com/

  3.  http://palingindonesia.com/yospan-tari-pergaulan-tanah-papua/

  4.  http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/898/tarian-perang-papua

  5.  http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjayapura/2014/02/16/hasil-kajian-bpnb-jayapura-papua-kearifan-lokal-sistem-berladang-etnis-matbat-di-kampung-magey/

  6.  http://www.youtube.com/watch?v=dMldSFwXTfU&feature=related

  7.  http://www.youtube.com/watch?v=VKQ9gAB8Fiw

#SAIL Raja Ampat 2014, Indonesia Travel, Wonderful Indonesia:

http://indonesia.travel/contest/raja-ampat-2014/widgetct.php?ref=KODEPESERTA