Mereguk Ilmu Kepenulisan Dari Oka Rusmini Dan Kirana Kejora- Komunitas Lintas Sastera

Sebenarnya acara ini sudah berlangsung cukup lama, tepatnya 5 Agustus 2014 lalu. Bertempat di salah satu ruang di bawah atap Gedung Balai Pemuda atau di sebelah Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Sebutlah dia Galery Surabaya. Sebuah ruangan sederhana yang sering dimanfaatkan para pekerja seni dan sastera Surabaya untuk mengadakan event kumul-kumpul.

galery surabaya
Galery Surabaya

Sore itu tersedia aneka cemilan sederhana dan air kemasan dalam gelas, menggenapi tikar yang terhampar untuk acara lesehan bertemu beberapa sosok inspiratif.Acara yang di gelar oleh Komunitas Lintas Sastera itu bertajuk Halal Bihalal Komunitas Lintas Sastera 1435 H. Acara utama :Diskusi Creative Writing , mengundang Oka Rusmini seorang penulis wanita yang tinggal di Bali, sebagai pembicara utama, serta Elang Kirana Kejora seorang penulis asal Sidoarjo yang karya-karyanya banyak di filemkan.

Mba Oka Rusmini dan Mba Kirana Kejora
Mba Oka Rusmini dan Mba Kirana Kejora

Kedua penulis wanita yang menginspirasi itu ternyata memiliki ciri khas yang bisa dibilang bertolak belakang. Jika Oka Rusmini memilih untuk tidak mempublikasikan secara besar-besaran karyanya yang rata-rata kental mengangkat budaya Bali, maka karya Elang Kirana Kejora justeru banyak diburu production house untuk difilemkan.

Karya-karya Oka Rusmini seperti  Tarian Bumi, Sagra, Pemahat Abad dan lain-lain kental mengangkat budaya Bali terutama yang berhubungan dengan wanita. Isu tentang kesetaraan hak, cinta dan kasta yang kental mewarnai kehidupan sosial masyarakat Bali.  Begitu apik Oka Rusmini menuliskan kisah para tokohnya sehingga banyak pembaca mengira semua novel itu  berdasar kisah nyata, terutama kehidupan penulis sendiri. Padahal menurut wanita kelahiran Jakarta yang bekerja sebagai wartawati Bali Post itu, semua kisah yang dituliskannya hanyalah murni imaginasinya belaka yang terinspirasi kehidupan masyarakat tradisional Bali yang tergerus modernisasi.

2014-08-07-08-22-45_deco
Yang Punya Blog 😛

“Seorang penulis itu ngga perlu mengejar-ngejar penerbit, jika tulisan kamu bagus, kamu yang bakal dikejar-kejar penerbit” kata Oka Rukmini yang konon beberapa bukunya diminta oleh penerbit luar negeri untuk diterbitkan. Bahkan karena karya tulisnya Oka Rukmini pernah mendapat kesempatan untuk menjadi penulis tamu di Universitas Hamburg Jerman tahun 2003. selain sebagai tamu undangan di festival Winternachten di Hague dan Amsterdam pada tahun yang sama.

Kirana Kejora ternyata memiliki rekam jejak kepenulisan yang cukup panjang. Wanita kelahiran Ngawi, Jawa Timur dan tinggal di Sidoarjo tersebut banyak menulis cerpen, puisi, novel dan bahkan script filem baik layar lebar maupun televisi.

Beberapa novelnya yang terkenal. Elang, Air Mata Terakhir Bunda, Kenang Langit AMTA ( Ayah Menyayangimu Tanpa Akhir ), Surga Kecil Di atas Awan, dan yang terakhir adalah Kidung Cinta Sejati. Novel AMTA sudah dilamar sebuah production House dan deal filem pada Mei 2014. Penuls yang produktif ini juga aktif di berbagai kegiatan sosial yang bertujuan menumbuhkan minat baca dan semangat juang bagi anak-anak yang kurang beruntung.

Acara jadi  semakin seru dengan kehadiran Bapak Suparta Brata, penulis senior yang pernah begitu terkenal di jamannya dan kini melegenda.

Bapak Suparta Brata dan Mba Oka Rusmini
Bapak Suparta Brata dan Mba Oka Rusmini

Sungguh sebuah silaturahmi akan selalu memberikan banyak ilmu baru dan semangat untuk terus berkarya dan meniti kehidupan dengan lebih optimis. Terima kasih Komunitas Lintas Sastera karena telah mengundang kami menghadiri acara yang menginspirasi. Terima kasih Ibu Wina Bojonegoro dan semua panitia acara. Salam Sastera dari Surabaya

 

2014-08-07-08-20-38_deco
Bersama Ibu Wienna Bojonegoro, Ketua Panitia yang juga seorang penulis

 

2 thoughts on “Mereguk Ilmu Kepenulisan Dari Oka Rusmini Dan Kirana Kejora- Komunitas Lintas Sastera

    1. intinya tuh mbak Ade, kalo mau menulis, terutama kalo ingin mengangkat tradisi/budaya, bisa dilihat dari masyarakat tempat kita tinggal, ngga harus dari desa adat yang kental seperti Bali, bisa juga dari kota metropolitan seperti Surabaya dan Jakarta 🙂 Terima kasih kunjungannya mbak Ade 🙂

      Suka

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s