Mimpiku Akan Hunian Yang Menyatu Dengan Alam


Selalu,  aku merindukan rumah dengan suasana hutan atau pantai. Seringkali aku memimpikan, bila uangku sudah terkumpul  cukup banyak, maka aku akan membeli tanah luas di pinggiran kota Surabaya dan membangun rumah  kecil saja, yang penting bersih dan minimalis, agar mudah perawatannya, lalu sisa tanah akan kutanami pohon jati, pohon buah-buahan dan bunga tentunya. Itu semua semata agar suasana hutan yang kuinginkan benar-benar tercipta. Aku ingin setiap pagi terbangun oleh kicauan burung dan saat siang hari kunikmati semilirnya angin yang menerpa hijau dedaunan di hutan milikku sendiri.

Pemandangan Laut Utara dari atas Bukit
Pemandangan Laut Utara dari atas Bukit

If you can imagine it, you can achieve it, If you  can dream it, you can become it ” William Arthur Ward, an American Dedicated Scholar .

Ya berani bermimpi. Dan tentunya , bagaimana langka strategis untuk mewujudkan impian itu. Ketika Sang Maha Kaya memberiku rezeki, aku segera keliling Surabaya untuk mencari tanah impian untuk mewujudkan rumah hutan impianku. Rupanya aku sudah tertinggal beberapa langkah dengan para pengembang yang sangat “agresif”. Ibarat di mana ada sejangkal tanah menganggur, di situlah para pengembang menancapkan patoknya “di sini akan segera di bangun proyek Ini dan Itu” Ah…

Tambahan lagi dalam beberapa tahun ini aku ngga bisa pindah dari kawasan  “cukup” mahal yang aku tempati, jadilah aku harus terima dengan rumah mungil dengan halaman terbatas. Rumah hutan impianku masih harus menunggu untuk diwujudkan.

Tetapi kemudian mimpi lain menggoda, saat ada workshop  bagaimana menjadi pengembang perumahan, aku  merajut mimpi yang lain. Bersama adikku, aku mencoba menjadi pengembang perumahan. Masih dengan konsep yang sama, hunian yang simple menyatu dengan alam. Harmoni yang dirindukan  setiap orang di era modern, di negera seperti Indonesia ini, di mana, pertumbuhan ekonomi belum cukup merata di semua kalangan.

Mimpi kami adalah memberikan perumahan murah tapi berkualitas, di mana konsep bangunan modern yang menyatu dengan alam. Kami tidak ingin merusak alam. Tapi kami ingin menjadikan alam sebagai satu-kesatuan utuh yang menseimbangkan kehidupan kami. Maka mulailah kami mencari lahan di sekitar pantai utara pulau Jawa yang sedang berkembang pesat dengan adanya sentra industri , ekonomi, dan pariwisata.

Jalan Raya Di Depan WBL dan The Zoo
Jalan Raya Di Depan WBL dan The Zoo

Untuk mensukseskan proyekku tersebut, aku dan adikku terus bahu membahu tanpa kenal lelah, berusaha mensosialisasikan proyek kami, tentunya terlebih dulu pada keluarga dan teman-teman, serta masyarakat sekitar daerah itu yang benar-benar mengenal potensi daerah itu. bagi orang yang tinggal jauh dari daerah pantura mungkin akan bertanya-tanya, “apa keuntungan berinvestasi di sana?” Tapi bagi masyarakat sekitar sendiri, mereka tahu, bahwa harga properti di daerah sana berlari sangat cepat sesuai karakter masyarakat peisisir yang dinamis.

Sebagai ilustrasi, daerah pantura mulai  Gersik hingga Tuban terdapat pabrik-pabrik  palawija, dolomit, Pengemasan ikan untuk eksport, dan yang terbesar tentunya pabrik semen Holcim dari Korea yang beroperasi di Tuban. Kondisi tiga kota Kabupaten ini saling terintegrasi dan saling menunjang satu sama lain.  Karyawan dan staf dari perusahaan besar itu  sangat memerlukan hunian baik untuk di beli  maupun untuk di sewa. Belum lagi untuk daerah seputar Wisata Bahari Lamongan yang selalu penuh menjelang week  end maupun saat libur panjang. Ini menjadikan kebutuhan akan rumah sewa untuk homestay juga meningkat.

Peluang inilah yang kami tangkap sehingga kami merancang konsep perumahan kami untuk bisa ditempati, disewakan baik tahunan maupun mingguan sesuai minat para pembeli. Ngga ada ruginya berinvestasi di Palm Leaf Villas, apalagi sebentar lagi akan dibangun pasar desa berkonsep tradisional yang bersih tepat di samping kiri peumahan yang kami rencanakan, selain akan  menjadi magnet ekonomi, pasar tradisional seperti ini merupakan areal wisata belanja bagi turis  untuk berbelanja makanan khas yang menjadi ciri daerah tersebut.

Palm Leaf Villas terletak di perbukitan indah di dekat hutan, tak jauh dari pantai
Palm Leaf Villas terletak di perbukitan indah di dekat hutan, tak jauh dari pantai
2b
Tampak Depan Gerbang Palm Leaf Villas
45
Tipe 45 Palm Leaf Villas

 

Mengejar mimpi, memang tak semudah membalik telapak tangan, tapi teruslah bermimpi dan jangan ragu meraih mimpimu!!

 

Artikel  diikutkan dalam lomba  #MengejarMimpi,  yang diselenggarakan  #MimpiProperty . Saatnya mengejar mimpi

banner250x250

Makin Tenteram Dan Nyaman Dengan Kosmetika Halal Indonesia


Aku mengenal Wardah, kira-kira 12 tahun yang lalu, ya saat si sulung masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Aku senang dan menyambut gembira  hadirnya kosmetika halal. Secara saat itu ghirah ku sedang tinggi-tingginya untuk mengkonsumsi hanya yang halal-halal saja. Perkenalan awal, adalah seorang guru di sekolah tersebut yang tak lain adalah kakak iparku, beliau bercerita tentang datangnya sales kosmetika halal yang mempresentasikan Wardah ke Sekolah. Akupun memesan beberapa item, dan merasa “agak” cocok. Hmm… maksudnya sedikit kurang cocock sih, tapi tetep aku pakai saja, secara pengen halal minded. 

Sebelumnya aku sudah memakai kosmetika asli Indonesia, dan merasa nyaman banget dengan produknya, tapi… si dia belum halal. Maka aku tetap menguatkan tekad untuk memakai produk Wardah saja.

Bahkan kemudian aku sempat menjadi reseller produk turunan Wardah, yakni Zahra. Kalau kemasan Wardah dari awal bernuansa hijau lembut, maka kemasan Zahra adalah biru tua. Meski ngga ngerti -ngerti amat soal kosmetik, aku keukeuh mencobai produk-produk Wardah dan Zahrah.

IMG_20140829_082038~2_20140829083807697
Rangkain Kosmetika Wardah

Tapi kemudian produk Zahra menghilang dari pasaran, dan aku juga kesulitan mencari Wardah, karena produknya belum dijual secara luas.  Dan lagi aku menemukan masalah, ternyata kulitku alergi dengan beberapa produk Wardah. Kulitku menjadi kering bersisik seperti panuan, di bagian pipi. Maka kuhentikan sementara memakai kosmetik merek ini dan hunting kosmetik lain yang lebih aman untuk kulitku meski itu berarti merogoh kocek lebih dalam.

Ketika booming produk kosmetika organik, aku ingin sekali menyurati Ibu Nurhyati Subakat, pemilik Wardah untuk memproduksi Wardah Organik, tapi aku ngga tahu harus ke mana mengirim surat pada beliau.

Saat itu Wardah tidak dikenal di kalangan masyarakat luas, karena Wardah berkomitmen untuk tidak ber-iklan agar bisa menekan biaya produksi dan memberikan harga yang terjangkau bagi konsumen. Aku ingat model pertama Wardah adalah Marissa Haque, kemudian beralih ke Inneke Koes Herawati. Sementara Zahra memasang Mbak Ratih Sang sebagai Brand Ambassadornya.

Tahun berlalu, hingga akhirnya sekarang ini aku melihat produk Wardah semakin berkualitas, di samping  variannya juga semakin komplit. Mau tak mau akupun kembali melirik produk yang satu ini. Apalagi Wardah semakin gencar berpromosi dan menjadi sponsor banyak acara dan majalah wanita. Masyarakat semakin kenal siapa Wardah. Meski begitu bila dibandingkan harga Wardah dengan kosmetika lainnya, harganya jauh sangat-sangat terjangkau. Padahal aku yakin, kualitasnyapun sejajar dengan kosmetika bermutu lainnya.

White Seceret Series Wardah
White Seceret Series Wardah

Makin mantaplah hatiku untuk kembali pada Wardah, kosmtika halal dan berkualitas.

Oya, bila kita bicara soal kosmetik, jangan hanya berpikir tentang tata rias wajah ya. Kosmetika itu lebih ditekankan pada produk perawatan kulit dan rambut. Mulai pembersih, penyegar, facial foam, pelembab, foundation, pelindung matahari, lalu bedak dan tata rias lainnya. Juga jangan lupakan perwatan tubuh seperti sabun, hand and body lotion, body butter dan lain-lain. Ya wajarlah perempuan pengin tampil bersih terawat dan wangi . ya kan? hehehe 🙂

Dan yang lebih menggembirakan,dengan makin besarnya kesadaran masyarakat untuk memakai kosmetika halal, beberapa produk kosmetika dalam negeri juga mengikuti jejak Wardah untuk mendapatkan Sertifikasi Halal dari Badan LPPOMMajelis Ulama Indonesia (MUI).  Sebut saja, Mustika Ratu, Sari Ayu, Biokos,Caring  Colors, Biocell,  Ristra,  Moors, , dan lainnnya. Bahkan La Tulipe juga sudah mendapat sertifikasi halal.

Tentunya konsumen muslim Indonesia akan semakin nyaman dan bangga dengan produk kosmetik dalam negeri Indonesia yang aman, berkualitas, halal dan harganya terjangkau. Aku Bangga Kosmetika Halal Indonesia

Ketinggalan Pesawat Itu, Rasa Sakitnya Di Sini…


Aku tak sering bepergian dengan pesawat, dua kali ke luar negeri dan beberapa kali ke Jakarta. Seingatku semuanya dengan maskapai yang berbeda-beda.

Tapi aku  membaca berita bahwa trend terbang murah kini semakin diminati. Salah satu pelopor terbang murah tapi ngga murahan  adalah sebuah maskapai dari Malaysia, Air  Asia. Tulisan AirAsia.com gede-gede yang dicetak di badan pesawat dengan huruf berwarna putih berlatar belakang merah menyala,  menjadi ikon kebanggaan maskapai ini.

“Now Everyone Can Fly” menjadi tagline yang  memberikan harapan bagi berjuta orang yang ingin merasakan kenyamanan transportasi udara.

“Sekarang terbang dengan pesawat ngga jauh beda ongkosnya dengan naik kereta api” aku ingat ucapan kakak-ku beberapa tahun lalu yang  sering diundang oleh para budayawan negeri-negeri jiran.

Wow  Bandara Juanda serame pasar!” tulis salah satu temanku di akun facebooknya. Pasti  akibat setiap orang sekarang bisa terbang.  Air Asia, pelopor penerbangan Low Fares yang tetap mengutamakan kualitas dalam pelayanan. Aku penasaran ingin terbang dengan maskapai satu ini.

Seminggu-an yang lalu, aku membaca status sahabat dumay-ku Bang Bule sedang ke Indonesia. Tepatnya di Jakarta. Kunjungannya sudah berlangsung hampir satu bulan, namun aku merasa ngga ada alasan  menemuinya secara offline. Sampai  dia mengumumkan beberapa  workshop-nya.  Satu workshop-nya akan berlangsung hari itu, jam tujuh malam,  yang lain akan berlangsung hari Sabtu-Minggu. Hari  itu kamis. Bila aku segera mencari tiket pesawat , masih terkejar bagiku menghadiri acaranya malam itu. Tapi dengan berbagai pertimbangan, kuputuskan mengikuti workshop berikutnya,  hari Sabtu- Minggu.

Bagian Boarding Check Bandara Juanda, foto-koleksi Pribadi
Bagian Boarding Check Bandara Juanda, foto-koleksi Pribadi

Aku memesan tiket di  situs penjualan tiket online, kupilih hari keberangkatan Jumat jam 9.10 dari bandara Juanda Surabaya,, dan waktu kepulangan  dari Jakarta, jam 19.40.

Hari Jumat tiba, semalam suntuk aku sibuk mempersiapkan diri, dengan niat pagi-pagi aku bakalan siap berangkat. Jam 6.00 si bungsu maksa diantar ke Sekolah. Aku memintanya menunggu setengah jam, jadi aku bisa siap-siap untuk nantinya sekalian ngedrop dia terus langsung menuju Bandara. Tapi dia merengek maksa diantar saat itu juga. Jadilah aku antar dulu dia lalu baru balik pulang ke rumah. Sampai di rumah, aku mandi, ngerumpi dengan kakakku yang kebetulan nginep di situ dan sarapan, Aku terkejut melihat jam dinding, jadwal terbang pesawatku  tinggal setengah jam lagi. Ala maakkk….

Aku bergegas berlari ke mobil sambil meminta segera diantar ke Bandara saat itu juga. Meski sekencang apapun mobil membelah jalanan Surabaya menuju Bandara, toh kami masih saja ketemu ruas- ruas jalan yang sempit dan macet. Aku terus berdoa dalam hati semoga aku ngga ketinggalan pesawat, semoga pesawatnya delayed  barang satu jam-an. Semoga pesawat terlambat seperti kebiasaan penerbangan-penerbangan Indonesia selama ini, hingga aku tetap bisa masuk pesawat.

Malangnya doaku ngga pada tempatnya, aku tetap ketinggalan pesawat dan tiketku hangus, O la..la.. Mau batal pergi, udah terlanjur pesan tiket balik, terpaksa aku membeli tiket baru dengan harga yang cukup mahal. Hiks…sakitnya tuh di sini…(nunjuk dada).

dokumen pribadi
Tulisan Air Asia.com berwarna putih berlatar blocking merah menyala. foto-koleksi pribadi

 

Bismillah aku tekadkan untuk tetap pergi, dan tetap dengan maskapai yang kupilih sejak semula, Air Asia. Aku memang penasaran dengan layanan penerbangan yang memenangkan enam kali  berturut-turut penghargaan  sebagai maskapai Low Fares terbaik. Wow!

Ternyata aku ngga salah pilih, maskapai yang satu ini tepat waktu, pesawatnya bersih dan nyaman, para kru di darat dan di udara semua sigap dan ramah. Ditambah lagi aku sudah membaca bahwa Air Asia sangat memperhatikan faktor keamanan penerbangan, maka hatiku pun jadi tenang selama terbang bersama Air Asia.

Dalam perjalanan, aku membaca Air Asia Magazine, di sana aku temukan artikel yang menohok ku tepat ke ulu hati. Artikel itu menulis, apa akibat yang ditimbulkan bila sebuah penerbangan  mengalami delayed alias penundaan jam terbang.

Menurut artikel itu, sebuah penundaan satu jam terbang dari satu maskapai hari itu, akan mengakibatkan penundaan penerbangan-penerbangan berikutnya. Khusus Maskapai Air Asia, layanan boarding check akan ditutup 45 menit sebelum jadwal  terbang pesawat sesuai yang tertera di tiket.

Ini berarti, paling aman bila kita tiba minimal 2 jam sebelumnya di Bandara. Jadi jangan harap kamu bakal diterima, meski tiba 30 menit sebelum jam terbang. Mengapa seperti itu?

Ternyata, sebuah maskapai, dalam jadwal terbangnya, mereka memerlukan waktu untuk memasukkan bagasi dan menatanya sebaik mungkin di lambung peswat. Selain itu mereka juga harus menghitung total berat muatan, yakni berat penumpang beserta barang bawaan di bagasi maupun barang yang masuk ke kabin. Setelah diketahui dengan pasti jumlah penumpang, dihitunglah  secara cermat  berat penumpang dan seluruh barang bawaannya (FYI, berat maksimal barang yang boleh masuk kabin adalah 7 kilogram, dan barang masuk bagasi maksimal 15 kilogram, untuk penerbangan domestik), maka akan di dapatkan angka berapa jumlah bahan bakar pesawat yang diperlukan oleh pesawat yang bersangkutan untuk terbang. Setelah itu, kru pesawat yang berwenang akan meminta pada pihak Bandara untuk memberikan bahan bakar sesuai jumlah yang dibutuhkan.

So,  sebuah penundaan penerbangan , akan berakibat, kacaunya jumlah perhitungan di atas, yang berari harus mengulang lagi, menghitung dari awal, mulai dari jumlah penumpang, berat total muatan pesawat, hingga jumlah bahan bakar yang dibutuhkan. Nah… terus waktu akan semakin molor dan ini bisa menganggu jadwal penerbangan-penerbangan  berikutnya,  Coba bayangkan berapa banyak kerugian dari pihak maskapai? Selanjutnya… bagi penumpang yang sedang dikejar waktu meeting dengan klien di daerah tujuan,penundaan bisa berarti kegagalan sebuah tender dan lain sebagainya. Hmm… kacau juga yaa…

Jadi begitu ya? aku manggut-manggut, memikirkan ketelodaranku sendiri. Dan betapa acungan jempol untuk Air Asia yang berusaha selalu tepat waktu dengan jadwal terbang. Jadi meski ada sakit di dada, akibat kehilangan banyak uang akibat hangusnya tiket pertama, aku berusaha memahami dan mengambil hikmahnya. ” Ya… lain kali lebih displin dan lebih prepare dong, emang ini maskapai milik Bokap elu? ” nasehatku pada diri sendiri.

Awan bergerak perlahan, seiring laju pesawat melintasi angkasa,sebuah tekad kutancapkan dihatiku, aku ngga akan ketinggalan pesawat lagi,. Air Asia telah mengubah pandanganku bahwa  maskapai penerbangan itu suka ngaret. Air Asia membulatkan tekadku untuk lebih disiplin dalam berbagai hal. Lebih jauh lagi, promo-promo penerbangan murah di www.airasia.com semakin menggelitik keinginanku untuk terbang dan melihat dunia, aku ingin keliling dunia bersama Air Asia.  Dan yang terpenting saat itu, aku bisa mengejar workshop  Bang Bule. Baaang... tunggu aku di workshopmuuu…

Bang Bule sedang presentasi dalam workshopnya, foto-koleksi pribadi
Bang Bule sedang presentasi dalam workshopnya, foto-koleksi pribadi

 

Keterangan:

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog 10 Tahun Air Asia, dengan tema

“Bagaimana Air Asia Mengubah Hidupmu”
Jumlah kata 992, tidak termasuk keterangan