Tanggal 19 Juli 2014, aku diminta untuk memberikan materi ke-putrian bagi komunitas Aisyiyah dan Nasiat ul Aisyiyah di mana ibuku menjadi anggota dewan penasehatnya. Organisasi ini bernaung di bawah organisasi Muhammadiyah di mana Ayahku Almarhum dulu adalah Ketua Cabang sekaligus anggota Dewan Pembinanya.inner and outer beauty 3- WM

Agenda yang sudah dijadwalkan satu bulan sebelumnya itu membuatku harus melewatkan acara NgaBLOGburit bersama  Aqua huuu..huuuu..(nangis Bombay..lebay..)

Tapi baiklah ambil postifnya aja. Secara acara dengan Aqua itu dimulainya sore dan baliknya malem hari. Dan pas Bo’il ku masuk bengkel buat acara Body Repair, so… aku mungkin sedikit kesulitan kalau harus ikut acara tersebut. Ambil hikmahnya...huuu.huu.huu inhealth…exhealth

Okay aku mengangkat tema kecantikan, maka jadilah makalahku “Inner and Outer Beauty For Muslimah”

Acara dimulai pukul 09.00, setelah pembukaan dan sambutan, akhirnya… aku pun mulai pemaparanku.

inner and Outer beauty 2- WM
memaparkan makalah “InnerAndOuterBeautyForMuslimah” –Gambar Koleksi Pribadi
inner and outer beauty 1- WM
Menjawab pertanyaan seputar “InnerAndOuterBeautyForMuslimah” –Gambar koleksi pribadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada Bab I aku mengulas DEFINISI  KECANTIKAN :

Bahwa definisi  kecantikan itu tidak sama  senantiasa berubah tergantung di mana, pada kultur apa dan kapan.
Contoh, sebuah suku di pedalaman Myanmar menganggap kecantikan diukur dengan panjangnya leher. Suku di Afrika menganggap wanita gemuk berarti cantik. Wanita China pada dinasti Qing menganggap kaki kecil itu cantik, dan wanita Eropa masa lalu menganggap kulit pucat lebih cantik dari kulit berwarna.

 

Suku Padaung Myanmar
Suku Padaung Myanmar ~ Gambar  dari Google

 

Kecantikan a la Eropa masa lalu
Kecantikan Eropa masa lalu – foto dari Google-

 

 

 

 

 

 

 

Waktu berlalu dan akhirnya semua pakem kecantikan itu telah berubah, bahkan beberapa berlaku sebaliknya dari pandangan sebelumnya.

Bagi seorang muslimah, kecantikan itu bukanlah semata mengacu pada kecantikan fisik. Ia nya adalah perpaduan dari beberapa hal, aku simpulkan  sebagai berikut :

  1. IMAN DAN AKHLAK
  2. INTELEKTUALITAS
  3. KEBERSIHAN DAN KESEHATAN
  4. NORMA DAN KEPANTASAN

 

Untuk penjabarannya sebagai  berikut :

  1. IMAN DAN AKHLAK

Sebagai seorang Muslimah, keimanan adalah hal yang pertama dan utama. Iman yang benar di landasi oleh ilmu yang cukup, maka akan melahirkan akhlak mulia. Karena akhlak adalah refleksi paling nyata dari iman seseorang

Sebuah hadist Rasulullah yang sangat terkenal berbunyi

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

  1. INTELEKTUALITAS

Intelektualitas tidak lahir begitu saja, meski setiap manusia sudah dibekali Allah SWT dengan kecerdasan bawaan sejak lahir. Intelektualitas perlu diasah. Melalui pendidikan formal maupun informal, banyak berdiskusi, bergabung dengan komunitas pengembangan diri dan sebagainya.

  1. KEBERSIHAN DAN KESEHATAN

Kebersihan adalah kecantikan luar yang pertama nampak. Seseorang yang senantiasa rajin menjaga kebersihan tubuh, pakaian dan lingkungannya tentu akan tampak lebih cantik dan dihargai oleh orang lain dibanding mereka yang serampangan dalam menjaga penampilan.

Sudah menjadi rahasia umum, bagi mereka yang menjaga kesehatan, akan tampil lebih cantik , bugar dan nampak muda serta bergairah dibanding mereka yang malas menjaga kesehatannya.

Kesehatan didapatkan dari perpaduan, pola makan sehat, berolah raga yang teratur sesuai porsi tubuhnya, dan minum air putih yang cukup.

Islam mengaharuskan muslim/muslimah memilih makanan yang memadukan unsur halal dan sehat

  • “Wahai orang -orang beriman diwajibkan atas kamu memakan makanan halal dan baik. Dan janganlah mengikuti langkah-langkah  syetan, sungguh ialah musuh yang nyata bagimu “ Al Baqara 168
  • “Diharamkan bagimu darah, bangkai  daging babi dan apa-apa  yang disembelih selain atasa nama Allah” (Al Maidah :3 atau Al baqara 173)
  • Makanlah ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang (Hadist)
  • Makanlah dan minumlah tetapi jangan berlebihan (Hadist)
  • Berpuasalah maka kamu akan sehat (Hadist)
  1. NORMA DAN KEPANTASAN

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Tradisi masyarakat berlaku bagi mereka yang tinggal di dalam lingkungan tersebut. Contoh wanita Arab umumnya mengenakan busana muslim yang berwarna hitamdan berbentuk abaya longgar. Bagi wanita Indonesia, busana muslim memilki ragam dan warna lebih bervariasi. Yang perlu diperhatikan adalah:
a) Sesuaikan dengan syariat Islam ; tidak tipis, tidak ketat (longgar), tidak menyerupai pakaian laki-laki, dan warna serta bentuknya cukup sopan serta tidak mengundang perhatian orang lain (model dan warna yang aneh bin ajaib)

b) Sesuaikan dengan umur, bentuk tubuh, karakter dan acara. Jangan sampai wanita berumur 40 masih ingin tampil seperti ABG, jangan nekad memakai pakaian berbahan kaos jika bentuk tubuh melar ke mana-mana. Jangan pakai baju pesta ke pasar dan sebagainya.

Sebuah hadist mengatakan :

“Barangsiapa di dunia ini yang memakai pakaian yang menghebohkan, kelak diakhirat akan dipakaikan pakaianyang menghinakan.

Mengapa masalah pakaian saja diatur dalam Islam?  hal ini sehubungan dengan prinsip Islam untuk membawa ummatnya menjadi umat yang lebih concern pada amal shalih berlandaskan ilmu dan iman, bukan sekadar mencari sensasi dan pujian dari makhluk yang bersifat melenakan dan menyesatkan.  Sebagai muslimah, apa yang kita sebut kecantikan itu selalu mengacu pada Quran :

  • “Wahai Nabi katakan kepada isteri2mu, anak-anak  perempuanmu dan isteri-isteri  orangMukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian agar mereka mudah dikenali dan agar mereka tidak  diganggu..  (surah al ahzabayat  59)
  • “…. Dan katakanlah kepada wanita mukminah agar menjaga pandangannya dan menjaga kemaluannya…..dan hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka(An Nur 31)
addunyaaa
perhiasan terindah “Wanita Shalihah” -foto dari Google-

 

Wallahu A’lam. semoga bermanfaat