Aku Anak Indonesia, Masa Kecilku Yang Bahagia

Masa kecilku sebagai anak Indonesia tidaklah terlalu istimewa. Tetapi sudah menjadi kodrat setiap manusia, seperti apapun warna hidupnya, masa kecil selalu mengguratkan kenangan paling istimewa. Saat tak ada beban harus menanggung kerasnya kehidupan dan tanggung jawab yang besar , yang ada hanyalah kesenangan belajar dan bermain.

Aku lahir dan dibesarkan di sebuah desa di pesisir Bengawan Solo. Sungai panjang yang mengular mulai dari Grojokan Sewu di kota Solo- Jawa Tengah, hingga bermuara ke Laut Utara Jawa di desa Sidayu Gersik – Jawa Timur itu merupakan urat nadi kehidupan masyarakat pesisirnya dan bahkan sumber kebahagiaan bagi anak-anak yang tinggal di desa-desa tepiannya.

Yang kuingat, hampir setiap sore kami Bluron alias mandi-mandi sampai kulit  hitam gosong dan bersisik terpapar  sinar matahari, mata memerah perih karena  terlalu lama menyelam di air, dan rambut yang memerah  terpanggang matahari.

Kami tidak akan  menthas atau beranjak keluar dari air  sampai orang tua kami masing-masing berteriak memanggil untuk menyudahi acara bluron dan bersiap mengaji di  surau dekat rumah kami.

Tak jarang ada orang tua yang bersikap sangat keras terhadap anaknya, dan menyeret anak-anaknya agar menthas dari bengawan, karena dikhawatirkan akan  “digondhol Kalap” alias dibawa makhluk halus yang suka menyamar menjadi kerabat, dan menyasar anak-anak yang bermain di air sungai Bengawan Solo. Entah benar atau tidak,  aku tak tahu, tapi mitos itu santer berhembus di kalangan masyarakat desaku. Beruntung orang tuaku memperlakukanku dengan baik dan tidak pernah bersikap keras dan kasar, sehingga aku tidak perlu mengalami nasib memalukan seperti  teman-temanku yang harus menjerit sambil bertelanjang-ria karena diseret keluar dari air oleh orang tuanya. Kami memang biasa bluron sambil bertelanjang karena emaneman  kalau pakaian kami harus basah bila  dikenakan saat berenang dan menyelam, meskipun itu hanya selembar pakaian dalam. Jadi kami melepas semua pakaian kami, meletakkannya di atas kedua sandal kami di tepian sungai, lalu nyemplung ke air dalam kondisi totally naked  hihihi

Yang kami lalukan selain bermain semburan air, juga  berenang ke titik tertentu bagi yang mahir berenang, hingga gogo alias menyelam mencari kerang dan kijing. Meski pada akhirnya hasil buruan kami hanya kami buang atau kami berikan pada salah satu teman yang konon membutuhkan  kerang-kerang dan kijing-kijing tersebut buat lauk di rumah, nyatanya kami tak jera mengulang rutinitas yang sama hampir tiap sore.

Acara lain yang kami sukai adalah membuat istana pasir. Aku yang paling senang dengan acara ini karena aku membayangkan diriku kelak menjadi arsitek atau kontraktor kompleks perumahan atau candi borobudur atau apalah.Pokoknya seru dan tak pernah bosan memainkannya.

Bengawan Solo pada masa kecilku airnya sangat jernih terutama di musim kemarau. Orang-orang desa seringkali menangkap ikan patin, ikan sepat, dan ikan lain sejenis belut hingga udang galah yang galahnya sangat besar alias kami sebut conggah. Udang galah alias conggah ini merupakan kesukaannku. Biasanya hanya dibumbui garam dan bawang putih lau digoreng hmmm…. rasanya tak terkalahkan.

Konon Bengawan Solo  juga merupakan  sarana transportasi sejak jaman Majapahit Kuno hingga masa kerajaan Jawa. Bahkan di desa seberangku ada desa bernama  Pringgoboyo yang berasal dari kata Pring Disonggo Boyo alias bambu yang disangga buaya.Konon Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir sempat mendarat dan tinggal beberapa saat  di desa tersebut dalam rangka pelariannya dari usaha pembunuhan oleh lawan politiknya. Selain itu di desa Pringgoboyo pernah ditemukan Masjid Tiban alias Masjid yang ditemukan ujug-ujug dalam semalam. Konon itu adalah masjid kuno  peninggalan para saudagar Arab yang  berkelana berdagang sambil berdakwah di jaman Majapahit Kuno, terbukti ditemukan banyak batu-bata bertuliskan arab dan sejumlah makam kuno yang ukuran panjangnya hampir 3 kali ukuran makam orang-orang desa pada umumnya.

Bila menyelusur sampai ke Laut Utara Jawa, tak jauh dari desaku, hanya berbatas sebuah hutan, di temukan peninggalan Sunan Drajat di desa Drajat dekat Wisata Bahari Lamongan saat ini. Jadi bisa disimpulkan bahwa dulunya, desa-desa di Jawa, terutama Jawa Timur, di pesisir Laut Utara Jawa dan di pesisir sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo, dan mungkin juga Sungai Brantas, merupakan desa-desa dimana banyak interaksi dengan kerajaan baik Majapahit, Kediri pada masa pra Islam, lalu datanglah para  Sunan, mulai dari Sunan Ampel yang datang atas undangan permaisuri  terakhir Kerajaan Majapahit , yang konon merupakan bibi dari Raden Rahmat yang berasal dai Champa di Indochina, sesaat sebelum Majapahit runtuh oleh perang saudara.Dan akhirnya para Sunan itu menyebar di seluruh tanah Jawa sehingga dikenal adanya  9 Wali alias wali Songo. Konon kakek-nenekku masih ada yang berdarah keturunan Joko Tingkir dan ada yang keturunan Sunan Drajat, Wallahu A’lam.

Di musim penghujan,  air Bengawan Solo berwarna cokelat keruh, debitnya melimpah hingga meluap ke tepian, yang terjadi adalah banjir. Bagi orang tua, banjir adalah bencana. Tapi bagiku dan teman-temanku, banjir adalah festival kegembiraan. Sekolah diliburkan, hingga kami bisa puas bermain air seharian.Aku juga asyik nonton orang-rang yang mengungsi karena rumahya tenggelam. Mereka biasanya pindah ke jalan raya di depan rumahku yang letakknya cukup tinggi. Entahmengapa aku senang “nonton” kegiatan oranglain mulai dari masak, makan bersama dan lain-lain di tempat darurat mereka. Asyik dan rame, anget karena bertemu banyak orang hehehe.

Lebih asyik lagi bila datang para pejabat dan artis dari Surabaya dan Jakarta untuk memberikan sumbangan. Tak jarang partai politik dan sekolah-sekolah tertentu di Kota datang  ke desa kami. Waah kapan lagi kami bisa melihat langsung Bupati Lamongan dengan Isterinya yang cantik dan modis turun ke desa kami yang becek oleh air banjir?  Kapan lagi kami bertatap muka dengan Ibu Nani Soedarsono selaku menteri sosial saat itu? dan jurnalis  Televisi Republik Indonesia alias TVRI datang meliput. Kamipun disuruh berakting pura-pura berjalan sambil menjinjing rok di tempat-tempat yang tergenang hihihihi. asyiikk….

Lalu  berkilo-kilo bahan makanan dan beberapa potong pakaian akan dibagikan kepada warga desa. Meskipun Bapak dan Ibu melarangku mengambil bagian, tapi aku tetap senang,karena biasanya bantuan di drop di rumahku, lalu aku bisa membantu membungkusnya beramai-ramai dengan para pemuda-pemudi desa untuk kemudian dibagikan kepada yang ber hak.

Di waktu hari pasaran tertentu,kami akan merasakan kemeriahan satu malam, di mana para pedagang buah dari desa-desa yang jauh akan berdatangan untuk bermalam di pasar desa, agar esok bisa berdagang sejak pagi buta. Ada pedagang buah nangka, pedagang buah sawo, pedagang buah mangga jiwo, pedagang juwet, kesemek dan buah-buah kuno khas jaman dulu yang sekarang mulai susah dicari.

Banyak juga permainan yang suka kami mainkan di saat-saat malam bulan purnama seperti permainan gobag sodor, lompat tali, delikan atau hide and seek istilah bule-nya. Juga permainan-permainan lain yang membuat masa kecil kami terasa begitu meriah.

Ah bahkan saat telah dewasa, aku merindukan nuansa kehidupan masa kecil yang berbeda darai saat sekarang yang telah mengalami banyak kemajuan tapi agak kering romantisme. Kurasa… itulah yang selalu kurindukan dari tanah airku Indonesia, masa kecil yang bahagia dan selalu istimewa. Aku tak bisa lagi mengingkari bahwa aku mencintai Indonesia dan mencintai masa kecilku di bumi Indonesia.

Keterangan :
Artikel ini diikutkan dalam Kontes Unggulan Aku Dan Indonesia

Keterangan Gambar
Gambar berasal dari Google

9 thoughts on “Aku Anak Indonesia, Masa Kecilku Yang Bahagia

    1. iya Mak seru deh, unforgetable. Kalo sekarang mungkin masih ada tapi saya yakin udah ngga se-seru dulu lagi. Kesenangan anak-anak jaman sekarang udah tergantikan dengan game dan gadget Mak, apalagi internet dan listrik udah masuk desa, jaman udah berubah 🙂 makasih Mak Muna 🙂

      Suka

  1. Masa kecil seru yah, Mbak, polos dan apa saja dilakukan. saya juga ingat pernah mandi di sungai, sayangnya dari sekian teman kecil, hanya saya yang paling nggak bisa renang. takut kedalaman, jadi mandinya agak nepi 😀 :D.

    Sukses GAnya yah, Mbak 🙂

    Suka

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s